Cayadi Sutanto, April 30th, 2009:

Multi Tasking Emosi

Summary:

Manusia memiliki kemampuan mengendalikan emosi, dengan catatan kondisi dan hubungan berada tataran yang baik. Para korban Lapindo akan tersenyum bila diajak bicara oleh sesama korban, sebaliknya bila yang mengajak bicara adalah orang Lapindo.

Sejak dua hari terakhir saya sibuk dengan marathon rapat. Mulai hal membahas prosedur sampai masalah teknis. Bukan dengan 1 tim yang sama, namun berbeda2. Multi tasking istilah komputernya.

Setiap tim memiliki jenis pekerjaan yang berbeda. Termasuk karakter manusia di dalamnya. Ada yang kritis, pasif, tidak pedulian atau pembuat onar. Berhubungan dengan mereka sulit-sulit mudah. Dikatakan mudah karena kita sudah tahu karakternya. Dikatakan sulit karena setiap berbicara dengan mereka ada nuansa yang selalu sama.
Pada awalnya saya merasa mampu untuk berkomunikasi.

Ternyata ada hal menarik yang menjadi pengalaman saya, atau pembaca lainnya. Bahwa secara emosi seringkali orang lain mempengaruhi Anda. Dalam beberapa tim yang saya temui ada orang2 yang memicu emosi saat melakukan rapat. Saya ingat pengalaman rapat reuni smp saya. Setiap membahas ide tentang acara ada teman yang selalu memberikan kemungkinan kegagalan ide tersebut. Bahkan semakin lama alasan yang keluar semakin ngawur.

Untung bila kondisi rapat seperti reunian saya hanya terjadi sekali atau dua. Bila setiap rapat demikian? Lambat laun pasti membawa pengaruh.

Sore ini saya merasakan itu. Kemampuan mengolah emosi pribadi saya belum multitasking.
Setiap rapat dengan orang tertentu, ada emosi negatif yang muncul. Mengapa saat manusia dalam konteks buat kondisi pelayanan bisa tenang dan penuh kasih namun di konteks lain dapat menjadi pemarah?

Leave a Reply


Subscribe by RSS to Entries or Comments.