Cayadi Sutanto, October 10th, 2008:

Pendidikan Orang Cacat

Summary:

Anda tidak akan peduli Penyandang Cacat sampai bertemu dan mendengar kisah mereka. Artikel ini sedikit menguak kisah sedih penyandang cacat.

Artikel ini tentang kepedulian kepada penyandang cacat. Sebelum bulan kemarin saya tidak pernah memikirkan mereka.Bertemu Ferry membuka mata saya. Dia adalah penyandang tuna netra yang beruntung. Beruntung karena ketuna netraannya masih memberikan pekerjaan.

Yang tidak beruntung lalu seperti apa? Makan daun tanpa pakai nasi. Mengiris hati bila mendengar cerita mereka. Ini fakta temuan saat Biro Tuna Netra Laetitia mengadakan kunjungan rutin kepada anggota mereka. Para anggotanya memang mendapat pelatihan untuk keterampilan tertentu, menyanyi dan memijat. Namun itu tidak cukup.

Salah satu cerita sedih seorang penyanyi tuna netra adalah saat menjadi penyanyi mantenan (kawinan). Tamu-tamu yang datang nyeletuk, “Kok manggil penyanyi buta. Nanti calon anakmu ketularan buta”. Duh Gusti tega nian tamu itu.

Cerita lain datang dari teman Ferry. Dia tuna rungu sehingga bicarapun menjadi sulit. Saat dia masih kecil sering dihina dan ditolak masuk kelas agama. Gurunya tidak mau menerima gara-gara tuna rungu. Akhirnya cuma guru agama Katholik yang mau menerima dia.

Buat teman-teman yang tergerak hatinya silahkan menghubungi CPC di (021)3440172.

Leave a Reply


Subscribe by RSS to Entries or Comments.