<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cayadi Sutanto &#187; Renungan</title>
	<atom:link href="http://blog.sutanto.or.id/category/renungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sutanto.or.id</link>
	<description>Ziarah batin</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Dec 2010 02:22:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Diet dan Ayam Gule</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/diet-dan-ayam-gule/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/diet-dan-ayam-gule/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 01:57:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[ayam gule]]></category>
		<category><![CDATA[fitnes]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[perang batin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/catatan/diet-dan-ayam-gule/</guid>
		<description><![CDATA[Saudara Iskandar berjuang melawan nafsu makan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saudara saya Iskandar baru ikut fitnes. Dia bilang badannya semakin segar. Makan dan bangun tidur menjadi penuh semangat. Dalam hal makan ada perubahan motivasi. Dulu dia makan karena jam makan. Sekarang dia makan karena lapar usai berolah raga.</p>
<p>Sebagai junior di kelas fitnesnya. Semangat saudara Iskandar cukup tinggi. Demi memperoleh bentuk badan ideal dia rela mengeluarkan keringat. Itu pengorbanan yang besar. Karena saudara Iskandar adalah profesional belakang meja dan komputer. Berolah raga berarti meninggalkan zona aman dan nyaman. </p>
<p>Satu hal lagi yang saudara Iskandar lakukan. Diet ketat. Sebab tidak ada gunanya fitnes bila makanan amburadul. Makannya lalu tidak senafsu sebelumnya. Karena sebuah tujuan dia mampu mengalahkan nafsu. Namun suatu malam sepulang fitnes dia melihat ayam gule yang sengaja disisakan kakaknya. Malam itu ayam gule menjadi hidangan penutup.</p>
<p>Saya bertanya kepada saudara Iskandar, &#8220;lho kok nafsunya kalah dengan ayam gule?&#8221;. Jawabnya, &#8220;Waktu itu sudah larut malam, mubazir kalau tidak dimakan&#8221;. Diet dan ayam gule menjadi cerita semangat dan mubazir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/diet-dan-ayam-gule/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Playgroup 800rb/bulan</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/playgroup-800rbbulan/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/playgroup-800rbbulan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 08:02:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Angka yang tidak masuk akal untuk sekolah dengan stempel lokal.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebegitu mahalkah biaya pendidikan? Percakapan lalu bisa masuk ke ranah industrialisasi sekolah. Mulai dari sekolah desa sampai dengan sekolah internasional++. Bener-bener gila, kata orang desa. Normal, kata orang kota. Ah itu murah kata orang kaya.</p>
<p>Benar bahwa setiap golongan ekonomi memandang biaya tersebut <strong>relatif</strong>. Tergantung arti uang sejumlah 800 rb bagi orang tersebut. Yang menarik adalah, seberapa mahal biaya untuk playgroup? Apakah sebulan sekali mainan di sekolah tersebut diganti? Kalau begitu besarnya biaya menjadi wajar. Apakah gaji guru playgroup itu setiap bulan di atas rata-rata? Bagus karena pendidikan usia dini berperan cukup besar. Apakah benar biaya untuk playgroup <em>perlu</em> setinggi itu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/playgroup-800rbbulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PRT is Pekerja Rumah Tangga</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/prt-is-pekerja-rumah-tangga/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/prt-is-pekerja-rumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 11:59:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/renungan/prt-is-pekerja-rumah-tangga/</guid>
		<description><![CDATA[Minggu kemarin teman kantor membicarakan PRT di rumahnya. Lulusan SMP katanya. Namun kualitas sarjana. Sarjana karena memiliki kemampuan olah pikir dan rasa. Tanpa disuruh mampu menyelesaikan masalah dan itu menyenangkan. Ambil contoh saat teman saya berkata, Buku pelajaran anak banyak yang belum disampul. Besok sore seluruh buku pelajaran anaknya sudah rapi. Masih banyak contoh lainnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu kemarin teman kantor membicarakan PRT di rumahnya. Lulusan SMP katanya. Namun kualitas sarjana. Sarjana karena memiliki kemampuan olah pikir dan rasa. Tanpa disuruh mampu menyelesaikan masalah dan itu menyenangkan. Ambil contoh saat teman saya berkata, Buku pelajaran anak banyak yang belum disampul. Besok sore seluruh buku pelajaran anaknya sudah rapi. Masih banyak contoh lainnya. Dan itu menyenangkan teman saya dan istrinya, sang pemberi kerja. </p>
<p>Memberi tanpa diminta. Mungkin ada kasus lain yang mirip. Seperti saat kita bekerja sebagai karyawan. Ada masa kita hanya bekerja sesuai perintah. Atau saat kita menjual jasa kepada klien. Apakah kita hanya bekerja sesuai perjanjian atau memberi servis yang lebih? Siapapun yang kita layani pasti senang bila tanpa diminta, disuruh atau dikomplain melakukan sesuatu yang dibutuhkan. Seperti PRT teman saya. </p>
<p>Namun berapa banyak yang mau melakukan hal itu? Wong kalau di pasar saja selisih 50 perak bisa batal beli. Minta sebisa mungkin dapat sebanyak-banyaknya. Memberi kalau bisa sesedikit mungkin. Herannya kalau kerja hitungan, tapi kalau bonus minta gede. </p>
<p>Hidup lupa sama yang Empunya Hidup tapi minta hidup diberkati. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/prt-is-pekerja-rumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musibah di Tahun Baru</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/musibah-di-tahun-baru/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/musibah-di-tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 18:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Tidak semua keluarga merasakan kebahagiaan tahun baru. Ada dari sebagian keluarga tersebut malah dirundung masalah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian besar orang mengharapkan di awal tahun <strong>kondisi menjadi semakin baik</strong>. Sayangnya tidak semua orang mengalami hal ini. Berikut sebuah rentetan musibah pada keluarga besar yang saya kenal.</p>
<ol>
<li>Anak lelaki <strong>beruntun meninggal</strong>, sekaligus dalam waktu berdekatan &#8211; 3 anak lelakinya meninggal.</li>
<li><strong>Pernikahan ke-2</strong> dari suami yang sangat dicintai.</li>
<li>Anak <strong>masuk rumah sakit</strong>, saat berlibur di puncak anak ke-2 panas tinggi dan kejang-kejang.</li>
<li>Seorang ibu <strong>depresi berat</strong> dan <strong>koma</strong>, memikirkan keputusan kakaknya (poin ke-2) untuk menikah kembali. Ibu ini masih berusia 31 tahun dan menderita diabetes.</li>
</ol>
<p>Setiap saat masalah akan selalu datang &#8211; tidak peduli di tahun baru, saat ulang tahun ataupun hari lain yang bahkan dianggap suci. <strong>Tuhan tidak menutup mata </strong>- semata-mata musibah ini untuk memberitahu kita bahwa manusia kita tidak dapat hidup tanpa Tuhan.</p>
<p>Bagaimana bila itu terjadi pada keluarga kita?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/musibah-di-tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta akan Barang Duniawi &gt; Cinta akan Tuhan</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/cinta-barang-duniawi-cinta-akan-tuhan/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/cinta-barang-duniawi-cinta-akan-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 18:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Manusia kita bisa memiliki hasrat akan barang duniawi. Meskipun nilai barang tersebut tidaklah kekal. Mengapa kita tidak memiliki hasrat yang sama kepada Tuhan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup manusia kita seperti <strong>perjalanan </strong>di sebuah shopping centre. Kiri kanan dan sepanjang mata memandang terlihat etalase yang memamerkan produk. Mungkin ada satu atau dua produk yang menarik kita, bahkan sangat <strong>menarik</strong>. Setelah pulang &#8211; bayang-bayang baju yang bagus, gadget model terakhir yang mutakhir, atau barang-barang indah lainnya terus muncul. Lambat laun hati kita tertambat sedemikian rupa.</p>
<p>Beberapa orang bahkan menjadikan <strong>barang duniawi itu sebagai impian</strong>. Sesuatu yang manusia harus cintai dengan sangat adalah impian tersebut. Beberapa pakar atau motivator terkenal menekankan pentingnya <strong>hasrat akan sebuah impian</strong>. Seberapa penting? bila mungkin jadikan hasrat terhadap impian sebagai nafas dan roh dalam diri. Pernah mengalami atau membaca hal itu?</p>
<p>Nilai barang tersebut kian tahun kian <strong>menyusut</strong>. Entah karena nilai ekonomis, keawetan barang, unsur penuaan dan lain sebagainya. Namun hasrat yang manusia kita miliki toh tetap ada. Manusia kita namun belum tentu memiliki hasrat yang sedemikian menggebu untuk <strong>cinta akan Tuhan</strong>. Mengapa lebih mencintai barang duniawi &#8211; yang tidak kekal, daripada kepada Tuhan.</p>
<p>Tuhan memberikan segala sesuatu yang <strong>melebihi nilai duniawi</strong>. Entah itu kekayaan alam, udara yang kita hirup, kehidupan itu sendiri. Dan di antara barang milik Tuhan, hidup kekal sebagai suatu janji dengan nilai yang luar biasa. Apakah manusia kita pun memiliki hasrat akan impian hidup kekal di atas yang lainnya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/cinta-barang-duniawi-cinta-akan-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Kitab Suci adalah Bercermin</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/membaca-kitab-suci-adalah-bercermin/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/membaca-kitab-suci-adalah-bercermin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 15:15:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Kitab Suci sungguh membantu memperlihatkan siapa kita. Bila Yesus ada di hati kita, semua permintaan kita akan dia penuhi. Namun pertobatan menjadi syarat mutlak bagi manusia kita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kitab Suci bukan sekedar hiasan pemanis rak buku lagi. Dulu mendengar bacaan kitab suci di gereja bukan suatu hal yang menarik. Apalagi membaca secara pribadi di rumah. Bahasa yang sulit dimengerti, kata-kata Yesus yang penuh contoh &#8211; <em>mulek koyo susur</em> kata orang Jerman, kiasan-kiasan yang terlalu indah, janji-janji muluk seperti asap. Tidak pernah memang saat itu ada waktu khusus untuk merenung atau berkontemplasi atas Firman Allah.</p>
<p>Sampai suatu saat, pertobatan (<em>metanoia</em>) terjadi. Maret 2005, Tuhan bukan sekedar mitos lagi. Oktober 2005, di bawah bimbingan Robby Lukitama &#8211; pendiri dan konselor Komunitas St. Leopold terjadi perubahan yang lebih dalam. Hati dan pikiran berubah 180 derajat kembali ke Tuhan. Mendapat tugas sebagai pewarta mendekatkan diri kepada Firman.</p>
<p>Bagi saya kedekatan itu adalah buah karya Roh Kudus. Buah dari pertobatan batiniah membuka mata hati dan pikiran. Semakin lama ajaran Yesus dalam kitab suci semakin menarik. Liturgi Sabda dan homili menjadi suatu hal yang menarik. Hal ini hanya dan dapat terjadi bila manusia kita mengalami pertobatan sejati. Untuk itu saya sharingkan apa yang terjadi pada saat-saat teduh (pribadi) bersama Firman Allah.</p>
<p> </p>
<ul>
<li><strong>Akal budi bekerja</strong>, membaca kitab suci menggunakan akal budi sepenuhnya. Akal budi adalah karunia bagi manusia yang tidak dimiliki oleh ciptaan Tuhan lainnya. Artinya semua manusia dapat membaca dan menangkap arti dari setiap firman yang tertulis.</li>
<li><strong>Mendengar</strong>, saat membaca secara pribadi &#8211; ada hubungan pribadi pula. Firman itu seakan-akan hanya ditujukan bagi kita. Saat Liturgi Sabda seharusnya pun kita mendengar dengan seksama. Sehingga Sabda itu berbicara secara pribadi dengan kita. Pribadi artinya seluruh sisi kehidupan manusia secara individu.</li>
<li><strong>Merenungkan</strong>, menjadikan arti dari setiap kata pada Firman sebagai cermin. Terkadang suatu perumpamaan atau kalimat pada kitab suci adalah citra diri kita. Suatu hari kita sedang pusing dengan segala masalah yang ada. Kekhawatiran muncul seakan-akan dunia akan runtuh menimpa kita. Lalu saat membaca sabda Tuhan berkata, &#8221;Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?&#8221; (Mat 6:25) &#8211; di situ Tuhan berkata kepada kita secara pribadi. Firman Allah adalah teguran, nasihat, dan penghiburan.</li>
<li><strong>Melakukan</strong>, tanpa perbuatan maka sia-sialah Firman yang didengar. Ajaran Kasih oleh Yesus adalah hukum yang paling utama. Namun apa artinya bila saat bersama keluarga sering marah dan mudah tersinggung. Aktif dan tekun berdoa namun tidak memancarkan kasih dalam hidup sehari-hari &#8211; itu adalah sia-sia.</li>
</ul>
<p>Firman Allah sungguh cermin yang mampu membersihkan. Melalui akal budi, mendengarkan dengan hati, dan melakukannya. Setiap hari dapat menjadi momen indah bersamaNya. Lambat laun menjadi pribadi seperti Yesus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/membaca-kitab-suci-adalah-bercermin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyapu KRL Unofficial</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/penyapu-krl-unofficial/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/penyapu-krl-unofficial/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 13:08:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[pelayanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Setiap manusia memiliki tugas yang tidak resmi dari Tuhan. Apapun itu namun memberikan hasil hidup damai dan sejahtera.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang hari itu saya pulang lebih awal dari kantor karena sakit. Pilihan kereta api listrik ke Serpong hanyalah KRL Ekonomi. Kereta ini termasuk murah karena tiketnya hanya 1.500 rupiah. Full AC dari seluruh jendela dan pintu yang terbuka lebar. Sengaja saya pilih satu sudut yang terlindung dari angin.</p>
<p>Di depan saya duduk ternyata ada seorang ibu penjual nasi. Lauknya gorengan, sayur orek dan jengkol serta ikan masak pedas. Beberapa penjual asongan datang untuk makan siang. Rata-rata mereka membayar 5.000 rupiah, termasuk segelas aqua. Sampai satu saat seorang anak berumur 12 tahunan membeli makananan. Dia bilang, &#8220;Bu makan ya, 2.000 saja&#8221;. Dapat apa dia dengan 2.000? Ternyata masih dapat sayur jengkol dan kuah. Anak ini adalah <strong>pekerja unofficial</strong> dari PJKA. Fotonya ada di <a title="Lihat foto anak di kereta" href="http://csutanto.blogspot.com/2008/10/makan-siang-2rb.html" target="_blank">Photo Blog</a> saya.</p>
<p>Saya katakan unofficial karena dia menjaga kebersihan kereta PJKA namun tidak menggunakan seragam. Hidup kita pun memiliki tugas unofficial dari Tuhan. Mengapa unofficial?</p>
<ul>
<li>Karena <strong>tidak tampak seperti seharusnya</strong>, Bunda Maria adalah bunda Tuhan. Yang melahirkan dan menjaga Yesus dari kecil hingga masa Dia berkarya. Namun Bunda Tuhan tidak memiliki kemewahan seorang bunda raja.</li>
<li>Karena hanya punya <strong>kontrak sederhana</strong>, bahwa manusia hidup hanya memiliki satu tujuan, mengabdi Tuhan. Hanya memiliki satu aturan &#8211; yaitu Hukum Kasih.</li>
<li>Karena <strong>sewaktu-waktu kembali ke Tuhan</strong>, apa yang manusia miliki? hanya kebebasan. Uang, nyawa, kesehatan, pangkat, pekerjaan, dan kepemilikan lainnya tidak dapat Anda pertahankan. Kalau itu semua miliki Anda pasti dapat dipertahankan. Sebagai contoh adalah nyawa, tidak ada manusia yang dapat mempertahankan nyawanya sendiri.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/penyapu-krl-unofficial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

