Cayadi Sutanto, September 16th, 2008:

Dunia Virtual SecondLife

Summary:

Di masa depan Anda tidak harus pergi ke Universitas di Jerman untuk mendapat gelar sarjana. Atau mungkin Anda tidak harus bekerja di kantoran Sudirman yang macet luar biasa. Dunia ada di depan layar komputer Anda. Siap atau tidak, ini perkembangan teknologi.

Internet membawa perubahan dahsyat. Entah ini baik atau buruk. Ambil salah satu contoh dunia virtual SecondLife. Di sana para pendaftar menjadi resident dengan mengambil bentuk avatar. Resident sebagai layaknya penduduk di dunia nyata. Memiliki uang, membeli tanah, membangun relasi dan mengembangkan karir.

Ide ini sepertinya mengingatkan kita dengan game online yang marak di warnet. Para gamer ini juga memiliki avatar atau tokoh yang mereka mainkan. Salah satu teman saya yang berumur 30 tahun saja sangat suka bermain game online.

Satu cerita menarik darinya saat bertemu dengan pelajar baru pulang sekolah. Dengan bekal uang dari orang tua dia mengadakan perdagangan dunia nyata untuk benda virtual yang dimiliki teman saya. Saat itu pelajar ini membeli sebuah item untuk melengkapi koleksi miliknya. Nyata sekaligus menakutkan. Karena meskipun berstatus pelajar, dia membawa uang 1 juta yang setiap saat siap dipergunakan.

Bagaimana dengan SecondLife dan relasi terhadap dunia nyata? Lebih mengejutkan lagi. Animo pengguna internet sangat luar biasa. Dalam game ini Anda dapat menemukan universitas virtual dengan dosen nyata, kedutaan besar milik beberapa negara, bahkan sampai museum seni.

Nalar saya lalu berpikir, jangan-jangan nanti jalan akan sepi tanpa manusia. Toko-toko akan membuka jasanya lewat internet, seperti Amazon. Bila demikian dunia virtual ini menjadi nyata, atau dunia nyata kita menjadi virtual.

Leave a Reply


Subscribe by RSS to Entries or Comments.