Cayadi Sutanto, November 7th, 2008:

Membaca Kitab Suci adalah Bercermin

Summary:

Kitab Suci sungguh membantu memperlihatkan siapa kita. Bila Yesus ada di hati kita, semua permintaan kita akan dia penuhi. Namun pertobatan menjadi syarat mutlak bagi manusia kita.

Kitab Suci bukan sekedar hiasan pemanis rak buku lagi. Dulu mendengar bacaan kitab suci di gereja bukan suatu hal yang menarik. Apalagi membaca secara pribadi di rumah. Bahasa yang sulit dimengerti, kata-kata Yesus yang penuh contoh – mulek koyo susur kata orang Jerman, kiasan-kiasan yang terlalu indah, janji-janji muluk seperti asap. Tidak pernah memang saat itu ada waktu khusus untuk merenung atau berkontemplasi atas Firman Allah.

Sampai suatu saat, pertobatan (metanoia) terjadi. Maret 2005, Tuhan bukan sekedar mitos lagi. Oktober 2005, di bawah bimbingan Robby Lukitama – pendiri dan konselor Komunitas St. Leopold terjadi perubahan yang lebih dalam. Hati dan pikiran berubah 180 derajat kembali ke Tuhan. Mendapat tugas sebagai pewarta mendekatkan diri kepada Firman.

Bagi saya kedekatan itu adalah buah karya Roh Kudus. Buah dari pertobatan batiniah membuka mata hati dan pikiran. Semakin lama ajaran Yesus dalam kitab suci semakin menarik. Liturgi Sabda dan homili menjadi suatu hal yang menarik. Hal ini hanya dan dapat terjadi bila manusia kita mengalami pertobatan sejati. Untuk itu saya sharingkan apa yang terjadi pada saat-saat teduh (pribadi) bersama Firman Allah.

 

  • Akal budi bekerja, membaca kitab suci menggunakan akal budi sepenuhnya. Akal budi adalah karunia bagi manusia yang tidak dimiliki oleh ciptaan Tuhan lainnya. Artinya semua manusia dapat membaca dan menangkap arti dari setiap firman yang tertulis.
  • Mendengar, saat membaca secara pribadi – ada hubungan pribadi pula. Firman itu seakan-akan hanya ditujukan bagi kita. Saat Liturgi Sabda seharusnya pun kita mendengar dengan seksama. Sehingga Sabda itu berbicara secara pribadi dengan kita. Pribadi artinya seluruh sisi kehidupan manusia secara individu.
  • Merenungkan, menjadikan arti dari setiap kata pada Firman sebagai cermin. Terkadang suatu perumpamaan atau kalimat pada kitab suci adalah citra diri kita. Suatu hari kita sedang pusing dengan segala masalah yang ada. Kekhawatiran muncul seakan-akan dunia akan runtuh menimpa kita. Lalu saat membaca sabda Tuhan berkata, ”Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Mat 6:25) – di situ Tuhan berkata kepada kita secara pribadi. Firman Allah adalah teguran, nasihat, dan penghiburan.
  • Melakukan, tanpa perbuatan maka sia-sialah Firman yang didengar. Ajaran Kasih oleh Yesus adalah hukum yang paling utama. Namun apa artinya bila saat bersama keluarga sering marah dan mudah tersinggung. Aktif dan tekun berdoa namun tidak memancarkan kasih dalam hidup sehari-hari – itu adalah sia-sia.

Firman Allah sungguh cermin yang mampu membersihkan. Melalui akal budi, mendengarkan dengan hati, dan melakukannya. Setiap hari dapat menjadi momen indah bersamaNya. Lambat laun menjadi pribadi seperti Yesus.

Leave a Reply


Subscribe by RSS to Entries or Comments.