Cayadi Sutanto, October 6th, 2008:

Rejekimu Tergantung Orang Lain

Summary:

Teori pengembangan diri banyak yang berfokus ke dalam. Rejeki ditentukan besarnya usaha pribadi. Salah kaprah mengingat kita mahluk sosial.

Pagi ini teman saya menceritakan kasus rejeki yang hilang. Uang sejumlah 55 juta tidak kunjung tiba. Padahal kebutuhan menjelang kelahiran jabang bayi pertama sudah besar. 2 tahun lalu dia memberikan proyek kepada teman sekantor. Namun sampai dengan saat ini keuntungan belum kunjung tiba. Mau marah katanya. Bahkan dia berpikir untuk menyerahkan kasus ini kepada pihak ke-3 (debt collector?).

Saya bilang relakan saja, mumpung Lebaran – pahalanya besar. Jidatnya langsung berkerut tanda tidak setuju. Lho kenapa tidak setuju? kenyataannya rejekinya tergantung orang lain. Pengemplang itu yang akhirnya menentukan rejeki teman saya. Betul tidak?

Lain cerita saat membeli sarapan pagi bubur. Menjelang libur Lebaran kemarin saya lihat sate bubur ayam masih banyak. Si abang hanya bilang, “Memang begini mas kalau kantor sudah banyak yang libur”. Bagi para pedagang – jelas rejekimu tergantung orang lain.

Boleh jadi kita dibentuk oleh hidup menjadi orang yang mengepalkan tangan. Semboyannya adalah rejekimu ditanganmu sendiri. Caranya bisa bermacam-macam, mulai belajar kepribadian, teknik-teknik marketing, pola bisnis baru, dst. Rejeki adalah hasil dari usaha internal sehingga mampu menghipnotis orang lain untuk membeli. Lalu Anda percaya dengan cara-cara tersebut dan membeli buku mereka. Pembuat teori rejeki di tangan Anda ternyata membutuhkan Anda membeli bukunya.

Leave a Reply


Subscribe by RSS to Entries or Comments.