<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cayadi Sutanto &#187; anak</title>
	<atom:link href="http://blog.sutanto.or.id/tag/anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sutanto.or.id</link>
	<description>Ziarah batin</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Dec 2010 02:22:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Mendidik Anak untuk Mengepalkan Tangan</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/mendidik-anak-untuk-mengepalkan-tangan/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/mendidik-anak-untuk-mengepalkan-tangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 07:44:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Kita dengan sengaja atau tidak menerima pendidikan yang menadahkan tangan. Dan lalu kita meneruskan pendidikan itu kepada anak. Sebaiknya kita mengajar mereka untuk mengepalkan tangan - berjuang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita mendidik (baca:pemrograman pikiran) anak tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup. Mulai dari sejak masa kita sekolah sampai dengan pola politik. Di dunia sekolah kita mengalami murid belajar dengan hanya mendengar pengajaran guru. Di dunia keluarga kita mengalami seorang anak tidak pernah tidak harus mengikuti apa kata orang tua. Di dunia politik kita melihat banyak program yang memberi ikan daripada pancing.</p>
<p>Saya pun melakukan pembodohan itu. Suatu sore anak saya minta ijin untuk keluar bermain sepeda. Kebetulan suhu badannya agak tinggi. Saya berkata dengan lembut, &#8220;Sebaiknya jangan nak&#8221;. Kata-kata itu memberi efek kecil saja. Terbukti dia tetap ngotot keluar dan merengek-rengek. Akhirnya saya hanya menjawab, &#8220;<strong>Pokoknya tidak boleh</strong>&#8220;.</p>
<p>Sadar atau tidak. Mengatakan pokoknya mendidik anak untuk hanya menerima. Hanya menerima sampai saat negara ini harus mengalami reformasi. Hanya? kata-kata yang kuat bila dilihat dari imbasnya.</p>
<p>Mereka yang menadahkan tangan akan:</p>
<ul>
<li>Takut bila memiliki masalah.</li>
<li>Lebih baik diam daripada bicara.</li>
<li>Sungkan untuk berkompetisi terutama dengan seniornya (meskipun terkadang salah).</li>
<li>Menunggu daripada pergi mencari pemecahan masalah.</li>
<li>dan masih banyak lagi.</li>
</ul>
<p>Sadarkah kita? seharusnya mendidik anak adalah dengan <strong>mengeluarkan potensi</strong> mereka. Ambillah contoh saat anak masih kecil dan selalu bertanya, &#8220;Apa ini?Apa itu?&#8221;. Itulah potensi belajar anak. Secara semangat itulah <strong>mengepalkan tangan</strong>. Mereka berjuang untuk mengenal lingkungannya. Kita hanya sebagai katalisator atau fasilitator.</p>
<p>Namun mengapa setelah besar banyak anak yang malas untuk belajar? Kata teman saya, &#8220;Salah siapa?&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/mendidik-anak-untuk-mengepalkan-tangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

