<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cayadi Sutanto &#187; dunia</title>
	<atom:link href="http://blog.sutanto.or.id/tag/dunia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sutanto.or.id</link>
	<description>Lagi getol naik sepeda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Jul 2010 06:24:16 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bakwan Arema Malang Serpong</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/catatan/bakwan-arema-malang-serpong/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/catatan/bakwan-arema-malang-serpong/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 15:27:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Manusia punya kenangan akan suatu cita rasa. Termasuk bakwan Malang langganan saya di Kediri. Ternyata komuni bersama Tuhan pun menimbulkan kenangan akan damai.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini cerita tentang Bakwan Malang. Saya orang Jawa Timur &#8211; Kediri tepatnya. Dulu waktu masih di Kediri,  tukang bakwan selalu keliling dengan gerobak. Tulisan di gerobaknya adalah Bakwan Malang. Setelah pindah ke Jakarta ada kangen untuk menikmati bakwan itu. Mungkin bukan pada basonya &#8211; tetapi pada gorengan yang gurih dengan campuran saos kecap, sambal dan sedikit garam. Kangen itu terobati setelah melahap 1 mangkuk bakwan.</p>
<p>Ingin mencicipi <strong>rasa</strong> yang dulu pernah saya nikmati. Demikian juga perasaan saat ini. Terkadang saya ingat awal kembali ke jalan Tuhan. Setiap hari saya mencoba untuk misa harian. Terkadang 1 minggu penuh saya lalui dengan misa sore. Terkadang 1 minggu saya tidak dapat misa sore. Kangen dengan rasa damai yang senantiasa hadir seusai misa.</p>
<p>Beberapa hari ini rasa <strong>duniawi</strong> muncul &#8211; tekanan akan pekerjaan, masalah dengan kesehatan mertua, kerinduan untuk bermain dengan anak-anak. Itu semua membuat rasa tidak menyenangkan. Lalu disela-sela permenungan, ada <strong>kangen akan damai</strong> yang diterima seusai misa. Kemana damai itu? atau mungkin karena belakangan ini jarang misa harian?</p>
<p>Yesus bilang, tubuhKu adalah benar-benar makanan dan darahKu adalah benar-benar minuman. Kangen akan tubuh dan darah Yesus seperti kangen akan rasa bakwan Malang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/catatan/bakwan-arema-malang-serpong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta akan Barang Duniawi &gt; Cinta akan Tuhan</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/cinta-barang-duniawi-cinta-akan-tuhan/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/cinta-barang-duniawi-cinta-akan-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 18:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Manusia kita bisa memiliki hasrat akan barang duniawi. Meskipun nilai barang tersebut tidaklah kekal. Mengapa kita tidak memiliki hasrat yang sama kepada Tuhan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup manusia kita seperti <strong>perjalanan </strong>di sebuah shopping centre. Kiri kanan dan sepanjang mata memandang terlihat etalase yang memamerkan produk. Mungkin ada satu atau dua produk yang menarik kita, bahkan sangat <strong>menarik</strong>. Setelah pulang &#8211; bayang-bayang baju yang bagus, gadget model terakhir yang mutakhir, atau barang-barang indah lainnya terus muncul. Lambat laun hati kita tertambat sedemikian rupa.</p>
<p>Beberapa orang bahkan menjadikan <strong>barang duniawi itu sebagai impian</strong>. Sesuatu yang manusia harus cintai dengan sangat adalah impian tersebut. Beberapa pakar atau motivator terkenal menekankan pentingnya <strong>hasrat akan sebuah impian</strong>. Seberapa penting? bila mungkin jadikan hasrat terhadap impian sebagai nafas dan roh dalam diri. Pernah mengalami atau membaca hal itu?</p>
<p>Nilai barang tersebut kian tahun kian <strong>menyusut</strong>. Entah karena nilai ekonomis, keawetan barang, unsur penuaan dan lain sebagainya. Namun hasrat yang manusia kita miliki toh tetap ada. Manusia kita namun belum tentu memiliki hasrat yang sedemikian menggebu untuk <strong>cinta akan Tuhan</strong>. Mengapa lebih mencintai barang duniawi &#8211; yang tidak kekal, daripada kepada Tuhan.</p>
<p>Tuhan memberikan segala sesuatu yang <strong>melebihi nilai duniawi</strong>. Entah itu kekayaan alam, udara yang kita hirup, kehidupan itu sendiri. Dan di antara barang milik Tuhan, hidup kekal sebagai suatu janji dengan nilai yang luar biasa. Apakah manusia kita pun memiliki hasrat akan impian hidup kekal di atas yang lainnya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/cinta-barang-duniawi-cinta-akan-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
