<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cayadi Sutanto &#187; hidup</title>
	<atom:link href="http://blog.sutanto.or.id/tag/hidup/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sutanto.or.id</link>
	<description>Ziarah batin</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Dec 2010 02:22:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Punya Takdir sebagai Partai Khusus Pemerintah</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/catatan/punya-takdir-sebagaipartai-khusus-pemerintah/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/catatan/punya-takdir-sebagaipartai-khusus-pemerintah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 08:34:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Hasil pemilu lewat LSI dan lembaga sejenis mulai memberikan reaksi. Sesumbar di depan menjadi pemenang mulai memperlihatkan hasil sesungguhnya. Bagaimana bila hidup kita tidak sesuai harapan kita, bahkan berlawanan?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemilu kemarin menarik dan lucu. Sebelum pemilu digelar, 3 partai masing-masing bicara mereka yang terbaik. Setelah pemilu digelar, 1 partai bilang &#8211; kami adalah partai khusus pemerintah. Kata dewan redaksi salah satu TV swasta, &#8220;kok ada istilah itu?&#8221; Menurut ia kalau tidak pemerintah berarti oposisi.<span id="more-112"></span></p>
<p>Namun 1 partai ini meletakkan diri sebagai partai yang dirancang khusus menjadi pemerintah. Apa artinya mau tetap dapat porsi kursi kekuasaan gitu? Aduh partai yang berkoalisi dengan partai pemenang bisa meradang &#8211; antibiotik 600mg belum tentu sembuh.</p>
<p>Tapi cermin sosial ini layak kita renungkan. Yesus bilang dari awal diutus Bapa di surga. Terkenal dan diikuti banyak orang tetap bilang diutus Bapa di surga. Dikejar-kejar dan dilempari batu tetap bilang diutus Bapa di surga. Ditangkap di taman Getsemani tetap bilang diutus Bapa di surga. Bahkan sampai tergantung di kayu salib pun tetap bilang diutus Bapa di surga.</p>
<p>2 hari lalu memang saya sedang sakit. Saat itu berpikir, kalau saya disuruh jadi partai pemenang pasti mau. Kalau disuruh oleh Bapa di surga jadi Raja pasti mau. Tapi kalau disuruh jadi orang berpenyakit, lepra, cacat, tidak punya apa-apa, minus semuanya &#8211; apa masih mau?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/catatan/punya-takdir-sebagaipartai-khusus-pemerintah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Facebook plus atau minus untuk kemampuan sosialisasi</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/catatan/facebook-plus-atau-minus-untuk-kemampuan-sosialisasi/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/catatan/facebook-plus-atau-minus-untuk-kemampuan-sosialisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 09:12:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Tren jejaring sosial di internet marak muncul. Baik kalangan tua muda, pekerja atau pengusaha, dan kalangan lainnya. Jumlah teman banyak - apakah ini berarti Anda pintar bersosialisasi?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya dan istri belakangan ini keranjingan jejaring sosial Facebook. Tujuan awalnya karena ingin kembali berjumpa dengan teman kuliah kami. Dan memang benar. Kami &#8216;bertemu kembali&#8217; dengan mereka. Setelah add new friend teman kuliah (old friend lebih tepatnya), jejaring itu meluas ke tetangga dan saudara-saudari di gereja.</p>
<p>Situs ini memang memberikan fasilitas yang bagus. Melihat profil, saling memberi kabar, diingatkan kala teman ada yang berulang tahun, saling memberi hadiah virtual. Saat ulang tahun lalu menjadi momen saling memberi ucapan selamat &#8211; melalui komentar di dinding atau mengirim pesan pribadi.</p>
<p>Kejanggalan terjadi setelah beberapa kali saya memberi ucapan selamat ulang tahun. Saya lebih sering mengucapkan selamat ulang tahun lewat situs ini. Relasi kemudian menjadi hangat dan akrab. Namun apakah ini berarti kemampuan bersosialisasi saya meningkat?</p>
<p>Memang jaman dulu kepintaran bersosialisasi terlihat dari berapa jumlah teman. Atau mungkin bagaimana meriahnya suasana saat orang ini hadir. Orang yang berperilaku diam/jarang bicara saat berkumpul bukan termasuk kategori pintar bergaul. Jadi bila jumlah teman sedikit, kehadiran anda tidak diperhitungkan (boleh ada atau tidak), kalu berkumpull cuma diam saja maka merk dagang personal anda adalah tidak pandai bergaul &#8211; kurang kemampuan sosialisasi.</p>
<p>Teori masa kecil ini lalu membingungkan saat media komunikasi berupa jejaring sosial internet. Betapa tidak, semua orang bisa menambah jumlah teman setelah menekan tombol add friend. Lalu masuk ke daftar kenalan teman baru dan tekan tombol add friend lagi. Kalau ada yang ulang tahun tinggal memberi komentar atau menulis di dinding orang tersebut. Semua dapat kita lakukan tanpa pernah bertemu secara fisik.</p>
<p>Ini yang bagi saya menjadi pertanyaan &#8211; jadi sebenarnya memakai facebook itu menambah atau mengurangi kemampuan bersosialisasi. Ada komentar?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/catatan/facebook-plus-atau-minus-untuk-kemampuan-sosialisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bakwan Arema Malang Serpong</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/catatan/bakwan-arema-malang-serpong/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/catatan/bakwan-arema-malang-serpong/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 15:27:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Manusia punya kenangan akan suatu cita rasa. Termasuk bakwan Malang langganan saya di Kediri. Ternyata komuni bersama Tuhan pun menimbulkan kenangan akan damai.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini cerita tentang Bakwan Malang. Saya orang Jawa Timur &#8211; Kediri tepatnya. Dulu waktu masih di Kediri,  tukang bakwan selalu keliling dengan gerobak. Tulisan di gerobaknya adalah Bakwan Malang. Setelah pindah ke Jakarta ada kangen untuk menikmati bakwan itu. Mungkin bukan pada basonya &#8211; tetapi pada gorengan yang gurih dengan campuran saos kecap, sambal dan sedikit garam. Kangen itu terobati setelah melahap 1 mangkuk bakwan.</p>
<p>Ingin mencicipi <strong>rasa</strong> yang dulu pernah saya nikmati. Demikian juga perasaan saat ini. Terkadang saya ingat awal kembali ke jalan Tuhan. Setiap hari saya mencoba untuk misa harian. Terkadang 1 minggu penuh saya lalui dengan misa sore. Terkadang 1 minggu saya tidak dapat misa sore. Kangen dengan rasa damai yang senantiasa hadir seusai misa.</p>
<p>Beberapa hari ini rasa <strong>duniawi</strong> muncul &#8211; tekanan akan pekerjaan, masalah dengan kesehatan mertua, kerinduan untuk bermain dengan anak-anak. Itu semua membuat rasa tidak menyenangkan. Lalu disela-sela permenungan, ada <strong>kangen akan damai</strong> yang diterima seusai misa. Kemana damai itu? atau mungkin karena belakangan ini jarang misa harian?</p>
<p>Yesus bilang, tubuhKu adalah benar-benar makanan dan darahKu adalah benar-benar minuman. Kangen akan tubuh dan darah Yesus seperti kangen akan rasa bakwan Malang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/catatan/bakwan-arema-malang-serpong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman di RS</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/catatan/pengalaman-di-rs/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/catatan/pengalaman-di-rs/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 02:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[pelayanan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Rumah Sakit adalah tempat kemanusiaan bagi pasien. Keluarga dengan keterbatasan pengetahuan medis harus mengandalkan kesehatan anggota keluarga mereka kepada dokter, suster dan staff medis. Namun ada baiknya keluarga menjadi kontrol atas kinerja RS.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kondisi ayah mertua masih kritis. Setelah 2 hari di RS. Ada kondisi tertentu yang mengejutkan saya (nama RS tidak perlu  disebutkan). Mulai dari standar operasional yang tidak sesuai logika saya sampai dengan nurani yang dibatasi oleh sistem buatan manusia.</p>
<p><strong>Pengalaman tetangga</strong>, di tahun awal RS itu buka tetangga saya sudah mencicipi fasilitas dan pelayanan mereka. Naas bagi dia dengan kondisi diabetes, mendapat pelayanan teh manis dengan gula tebu. Cerita ini muncul saat saya mengunjungi beliau bersama istri.</p>
<p><strong>Pengalaman saudara</strong>, 2 tahun berlalu dan sepupu istri masuk untuk perawatan diabetes juga. Saya pikir sudah berubah, ternyata sama saja. Di pagi hari ditawarkan sarapan menggunakan roti tawar, selai kacang, strawberry dll. Loh, ini perawatan untuk mengurangi diabetes atau  meningkatkan kadar diabetes.</p>
<p><strong>Pengalaman keluarga &#8211; ibu mertua</strong>, saat ibu mertua dirawat kami mendapat kejutan. Suatu pagi kami diminta tanda tangan untuk obat dengan harga &gt; 1jt. Untung sepupu (yang dirawat karena diabetes) pernah memberi warning &#8211; hati-hati kalau disuruh tanda tangan untuk obat. Istri saya langsung cek ke dokter dan memang tidak perlu.</p>
<p><strong>Pengalaman keluarga &#8211; ayah mertua</strong>, mulai dari tabung oksigen tidak lancar, selangnya copot, dokter jaga yang konfirmasi tidak mau lewat telepon, ambulans stand by tapi tidak boleh dipakai.</p>
<p>Istri saya harus selalu waspada saat obat datang (karena mungkin terjadi <em>salah </em>memberi obat), konfirmasi setiap saat dengan dokter, bekerja sama dengan suster jaga, belajar tentang penyakit yang sedang dialami, cerewet tanya ini dan itu kepada dokter, cross check tagihan dengan retur obat selama dirawat.</p>
<p>Apapun yang terjadi tetap saya berterima kasih kepada RS karena <em>niat dan usaha baik</em> mereka merawat mertua saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/catatan/pengalaman-di-rs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musibah di Tahun Baru</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/musibah-di-tahun-baru/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/musibah-di-tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 18:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Tidak semua keluarga merasakan kebahagiaan tahun baru. Ada dari sebagian keluarga tersebut malah dirundung masalah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian besar orang mengharapkan di awal tahun <strong>kondisi menjadi semakin baik</strong>. Sayangnya tidak semua orang mengalami hal ini. Berikut sebuah rentetan musibah pada keluarga besar yang saya kenal.</p>
<ol>
<li>Anak lelaki <strong>beruntun meninggal</strong>, sekaligus dalam waktu berdekatan &#8211; 3 anak lelakinya meninggal.</li>
<li><strong>Pernikahan ke-2</strong> dari suami yang sangat dicintai.</li>
<li>Anak <strong>masuk rumah sakit</strong>, saat berlibur di puncak anak ke-2 panas tinggi dan kejang-kejang.</li>
<li>Seorang ibu <strong>depresi berat</strong> dan <strong>koma</strong>, memikirkan keputusan kakaknya (poin ke-2) untuk menikah kembali. Ibu ini masih berusia 31 tahun dan menderita diabetes.</li>
</ol>
<p>Setiap saat masalah akan selalu datang &#8211; tidak peduli di tahun baru, saat ulang tahun ataupun hari lain yang bahkan dianggap suci. <strong>Tuhan tidak menutup mata </strong>- semata-mata musibah ini untuk memberitahu kita bahwa manusia kita tidak dapat hidup tanpa Tuhan.</p>
<p>Bagaimana bila itu terjadi pada keluarga kita?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/musibah-di-tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta akan Barang Duniawi &gt; Cinta akan Tuhan</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/cinta-barang-duniawi-cinta-akan-tuhan/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/cinta-barang-duniawi-cinta-akan-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 18:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Manusia kita bisa memiliki hasrat akan barang duniawi. Meskipun nilai barang tersebut tidaklah kekal. Mengapa kita tidak memiliki hasrat yang sama kepada Tuhan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup manusia kita seperti <strong>perjalanan </strong>di sebuah shopping centre. Kiri kanan dan sepanjang mata memandang terlihat etalase yang memamerkan produk. Mungkin ada satu atau dua produk yang menarik kita, bahkan sangat <strong>menarik</strong>. Setelah pulang &#8211; bayang-bayang baju yang bagus, gadget model terakhir yang mutakhir, atau barang-barang indah lainnya terus muncul. Lambat laun hati kita tertambat sedemikian rupa.</p>
<p>Beberapa orang bahkan menjadikan <strong>barang duniawi itu sebagai impian</strong>. Sesuatu yang manusia harus cintai dengan sangat adalah impian tersebut. Beberapa pakar atau motivator terkenal menekankan pentingnya <strong>hasrat akan sebuah impian</strong>. Seberapa penting? bila mungkin jadikan hasrat terhadap impian sebagai nafas dan roh dalam diri. Pernah mengalami atau membaca hal itu?</p>
<p>Nilai barang tersebut kian tahun kian <strong>menyusut</strong>. Entah karena nilai ekonomis, keawetan barang, unsur penuaan dan lain sebagainya. Namun hasrat yang manusia kita miliki toh tetap ada. Manusia kita namun belum tentu memiliki hasrat yang sedemikian menggebu untuk <strong>cinta akan Tuhan</strong>. Mengapa lebih mencintai barang duniawi &#8211; yang tidak kekal, daripada kepada Tuhan.</p>
<p>Tuhan memberikan segala sesuatu yang <strong>melebihi nilai duniawi</strong>. Entah itu kekayaan alam, udara yang kita hirup, kehidupan itu sendiri. Dan di antara barang milik Tuhan, hidup kekal sebagai suatu janji dengan nilai yang luar biasa. Apakah manusia kita pun memiliki hasrat akan impian hidup kekal di atas yang lainnya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/cinta-barang-duniawi-cinta-akan-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Kitab Suci adalah Bercermin</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/membaca-kitab-suci-adalah-bercermin/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/membaca-kitab-suci-adalah-bercermin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 15:15:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Kitab Suci sungguh membantu memperlihatkan siapa kita. Bila Yesus ada di hati kita, semua permintaan kita akan dia penuhi. Namun pertobatan menjadi syarat mutlak bagi manusia kita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kitab Suci bukan sekedar hiasan pemanis rak buku lagi. Dulu mendengar bacaan kitab suci di gereja bukan suatu hal yang menarik. Apalagi membaca secara pribadi di rumah. Bahasa yang sulit dimengerti, kata-kata Yesus yang penuh contoh &#8211; <em>mulek koyo susur</em> kata orang Jerman, kiasan-kiasan yang terlalu indah, janji-janji muluk seperti asap. Tidak pernah memang saat itu ada waktu khusus untuk merenung atau berkontemplasi atas Firman Allah.</p>
<p>Sampai suatu saat, pertobatan (<em>metanoia</em>) terjadi. Maret 2005, Tuhan bukan sekedar mitos lagi. Oktober 2005, di bawah bimbingan Robby Lukitama &#8211; pendiri dan konselor Komunitas St. Leopold terjadi perubahan yang lebih dalam. Hati dan pikiran berubah 180 derajat kembali ke Tuhan. Mendapat tugas sebagai pewarta mendekatkan diri kepada Firman.</p>
<p>Bagi saya kedekatan itu adalah buah karya Roh Kudus. Buah dari pertobatan batiniah membuka mata hati dan pikiran. Semakin lama ajaran Yesus dalam kitab suci semakin menarik. Liturgi Sabda dan homili menjadi suatu hal yang menarik. Hal ini hanya dan dapat terjadi bila manusia kita mengalami pertobatan sejati. Untuk itu saya sharingkan apa yang terjadi pada saat-saat teduh (pribadi) bersama Firman Allah.</p>
<p> </p>
<ul>
<li><strong>Akal budi bekerja</strong>, membaca kitab suci menggunakan akal budi sepenuhnya. Akal budi adalah karunia bagi manusia yang tidak dimiliki oleh ciptaan Tuhan lainnya. Artinya semua manusia dapat membaca dan menangkap arti dari setiap firman yang tertulis.</li>
<li><strong>Mendengar</strong>, saat membaca secara pribadi &#8211; ada hubungan pribadi pula. Firman itu seakan-akan hanya ditujukan bagi kita. Saat Liturgi Sabda seharusnya pun kita mendengar dengan seksama. Sehingga Sabda itu berbicara secara pribadi dengan kita. Pribadi artinya seluruh sisi kehidupan manusia secara individu.</li>
<li><strong>Merenungkan</strong>, menjadikan arti dari setiap kata pada Firman sebagai cermin. Terkadang suatu perumpamaan atau kalimat pada kitab suci adalah citra diri kita. Suatu hari kita sedang pusing dengan segala masalah yang ada. Kekhawatiran muncul seakan-akan dunia akan runtuh menimpa kita. Lalu saat membaca sabda Tuhan berkata, &#8221;Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?&#8221; (Mat 6:25) &#8211; di situ Tuhan berkata kepada kita secara pribadi. Firman Allah adalah teguran, nasihat, dan penghiburan.</li>
<li><strong>Melakukan</strong>, tanpa perbuatan maka sia-sialah Firman yang didengar. Ajaran Kasih oleh Yesus adalah hukum yang paling utama. Namun apa artinya bila saat bersama keluarga sering marah dan mudah tersinggung. Aktif dan tekun berdoa namun tidak memancarkan kasih dalam hidup sehari-hari &#8211; itu adalah sia-sia.</li>
</ul>
<p>Firman Allah sungguh cermin yang mampu membersihkan. Melalui akal budi, mendengarkan dengan hati, dan melakukannya. Setiap hari dapat menjadi momen indah bersamaNya. Lambat laun menjadi pribadi seperti Yesus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/membaca-kitab-suci-adalah-bercermin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

