<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cayadi Sutanto &#187; iman</title>
	<atom:link href="http://blog.sutanto.or.id/tag/iman/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sutanto.or.id</link>
	<description>Ziarah batin</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Dec 2010 02:22:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Peraturan Utama Yesus</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/peraturan-utama-yesus/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/peraturan-utama-yesus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 16:07:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Seluruh kehidupan terorganisir secara rapi melalui peraturan. Namun seluruhnya adalah aturan manusia. Belalah aturan yang paling utama dari Yesus di atas seluruh aturan manusia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anak Anda <strong>lahir </strong>memerlukan akte kelahiran, setelah itu <strong>sekolah </strong>membutuhkan ijasah, bila telah <strong>menikah</strong> harus memiliki akte pernikahan di catatan sipil, dan <strong>matipun </strong>harus pakai akte kematian. Itu semua telah diatur dalam undang-undang ataupun peraturan lainnya. Seluruh hidup Anda harus <strong>mengikuti aturan</strong>.</p>
<p><strong>Gereja Katholik</strong> pun memiliki seperangkat aturan (yang dibuat manusia). Ada buku katekismus, dokumen-dokumen Konsili dan ajaran gereja, lalu ada Kartu Keluarga, dan lain sebagainya. Semuanya <strong>memiliki aturan</strong>.</p>
<p>Saya pernah mendapat cerita dari teman yang aktif di sebuah kelompok kategorial. Kelompok ini luar biasa mapan dan telah berdiri sejak tahun 1921 di negara nun jauh di sana. Menyebar bahkan sampai ke Indonesia. Teman saya kemudian tertarik dan menjadi anggotanya. Semua <strong>memiliki aturan</strong>. Mulai dari cara berdoa, karya apa saja yang wajib dan tidak wajib dilakukan, bagaimana saat melakukan karya tersebut, doa apa saja yang harus didoakan. Saya kagum dengan keteraturan yang disediakan.</p>
<p>Ambilah contoh <a title="Lihat kajian Perda ini dari Komisi Hak Asasi Manusia" href="http://uplink.or.id/v2/downloads/Kajian-Perda-Tibum-komnasham.pdf" target="_blank">Peraturan Daerah DKI no.8 tahun 2007</a> &#8211; bahwa Anda <strong>tidak boleh</strong> lagi memberi sedekah kepada orang miskin. Saya menilai ini suatu keputusan yang baik di sisi ketertiban umum. Bahkan bila melanggar Anda dapat dihukum. Sebuah aturan lagi yang menentukan bagaimana Anda menolong orang. Pendapat teman-teman pada umumnya juga sangat logis, &#8220;Kalau Anda memberi sedekah pada orang miskin di lampu merah &#8211; itu namanya Anda membudayakan kemalasan mereka&#8221;. Berlawanan dengan Luk 6:9, saat Yesus menyembuhkan orang pada hari yang dilarang (Sabat). Sedemikian hebat aturan (manusia).</p>
<p>Ekstrimnya adalah karya kasih harus ada dalam koridor peraturan kelompok. Bukankah <strong>aturan dari Bapa</strong> hanya ada dua (Mat 22:37). Dan bukankah berbuat kasih hanya membutuhkan <strong>hati yang tulus</strong> tanpa kepura-puraan (Rom 12:9).</p>
<p>Teman-teman, lihat dan dengarkanlah suara hati Anda. Mana yang lebih penting, Hukum Kasih atau aturan manusia. <strong>Belalah Tuhan </strong>dengan menjalankan Hukum Kasih di atas hukum manusia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/peraturan-utama-yesus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdoa Itu Dimana Saja</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/berdoa-itu-dimana-saja/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/berdoa-itu-dimana-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 08:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bekerja pun kita menjalin hubungan dengan Tuhan. Apapun yang kita lakukan asal untuk memuliakan Tuhan adalah bentuk berdoa, menjalin relasi dengan Sang Maha Kuasa]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya melihat orang mendekatkan diri kepada <strong>Tuhan </strong>itu dimana saja. Pengalaman yang saya peroleh setelah sering menggunakan KRL. Ada yang sambil duduk, berdiri atau sambil jongkok di salah satu sudut kereta. Beberapa menggunakan tasbih, membaca ayat Al-Quran atau kitab suci, menggunakan handphone atau PDA, atau hanya sekedar komat-kamit.</p>
<p>Orang-orang ini adalah <em>commuter</em> sejati. Para pengguna angkutan umum kereta api yang setiap hari pasti naik. Kereta kemudian menjadi seperti <strong>rumah </strong>mereka. Tempat duduk atau berdiri menjadi ruang dimana pertemuan dengan Tuhan terjadi. Khusuk dan menenangkan jiwa. Bahkan mungkin menjadi kegiatan untuk mengisi waktu menunggu sampai di tujuan.</p>
<p>Daripada duduk suntuk lebih baik <strong>khusuk</strong>. Demikian pula hidup ini, orang pergi pagi pulang petang &#8211; langsung tidur. Kalau ditanya kapan berdoa mungkin jawabannya adalah, &#8220;Tidak sempat, capek di jalan&#8221;. Jakarta belakangan ini memang luar biasa macetnya.</p>
<p>Lalu apakah hanya sekedar di dalam kendaraan orang bisa berdoa? Bisakah <strong>sambil bekerja</strong> kita menyatukan diri dengan Tuhan. Bukankah berdoa itu <strong>menjalin hubungan</strong> atau bercakap-cakap dengan Sang Maha Kuasa. Kerja itu sendiri memang belum tentu terkait dengan Tuhan. Sebab setiap orang memiliki <strong>tujuan </strong>yang berbeda saat bekerja. Ada yang hanya berpikir tentang untung atau rugi, kerumitan pekerjaan, konsekuensi yang harus ditempuh, dan pikiran lainnya.</p>
<p>Lain hal bagi seorang Pastor, Pendeta atau Ustad mungkin. Pekerjaan mereka memang hanya untuk kepentingan Tuhan. Kita pun dapat bekerja dengan tujuan untuk Tuhan. Ambilah contoh saat seorang petani menanam padi. Mereka menanam padi untuk kemudian menjadi gabah. Gabah ini lalu diolah menjadi beras. Dan pada akhirnya kita makan. Petani itu dapat saja berpikir, &#8220;Pokoknya tanam, panen dan untung&#8221;. Atau mungkin dia berpikir, &#8220;Hasil kerjaku ini untuk menyediakan beras bagi orang-orang yang membutuhkan&#8221;.</p>
<p><strong>Pola pikir</strong> yang kedua memiliki arti lebih. Yaitu memikirkan orang lain. Bukankah itu suatu amanah dari Tuhan? Agar kita satu sama lain saling menolong. Dan bila tujuan kerja kita adalah merupakan <strong>amanah </strong>Tuhan, artinya kita mengikutiNya. Kita menjalin hubungan dengan Tuhan dalam setiap tindakan di tempat kerja. Itulah <strong>berdoa</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/berdoa-itu-dimana-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Undang Undang Dasar Hidup</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/undang-undang-dasar-hidup/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/undang-undang-dasar-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Sep 2008 03:24:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Tindakan Anda seharusnya patuh kepada Hukum Kasih. Bukannya malah ribut tentang peraturan saat harus melakukan perbuatan baik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang merasa bila hidup di negara maju akan lebih indah. Segala sesuatu telah teratur. Bahkan pemerintah bertanggung jawab atas semua biaya mereka di masa tua. Baik itu untuk perawatan kesehatan, pendidikan, hidup lansia, keringanan pajak, uang saku dan lain sebagainya. Benarkah itu?</p>
<p>Terlepas dari kebenaran hal itu, peraturan menjadi <strong>bagian hidup</strong> mereka yang harus dijalani. Bahkan untuk berbuat baik pun ada aturan yang mengatur, contoh aturan <a title="Klik di sini untuk membaca lebih detail" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Duty_to_rescue" target="_blank">Unterlassene Hilfeleistung </a>milik negara Jerman. Lalu menjadi perkara baru saat setiap tindakan yang terkait harus ditelaah menurut hukum. Telaah itu terjadi sebab setiap pengabaian hukum (kewajiban) memberi konsekuensi hukum. Manusia lalu menjadi takut untuk berbuat/tidak berbuat baik.</p>
<p>Contoh lain yang terjadi di tingkat lokal, misal Jakarta.Seorang pengendara motor menjadi korban tabrak lari. Sopir taxi yang kemudian lewat harus berpikir lebih dua kali untuk menolongnya. Mengapa? karena <strong>hukum rimba </strong>ternyata masih berlaku di negara yang berstatus republik. Salah satu pasal hukum rimba itu adalah mengenai menolong korban tabrakan. Bila di saat kejadian tidak ada yang melihat dan Anda berhenti untuk menolong &#8211; maka kemungkinan Anda tertuduh sebagai penabrak adalah besar. Tanpa ketuk palu pengadilan, mobil taxi Anda dapat dihancurkan masa.</p>
<p>Takut mobilnya hancur maka sopir taxi itu berkata, &#8220;Ya mau gimana Pak, daripada mobil saya hancur&#8221;. Ternyata sopir taxi itu lebih takut kepada hukum rimba daripada hukuman melanggar lampu merah. Ini pengakuan warga negara yang berstatus <strong>republik </strong>dengan UUD 1945 sebagai dasar hukum.</p>
<p>Mengapa hidup tidak seperti <a title="Biografi St. Fransiskus dari Assisi" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Francis_of_Assisi" target="_blank">St. Fransiskus dari Assisi</a>? Seorang pemuda dari kalangan borjouis yang melepaskan segala kekayaan keluarganya. Hukum yang dia jalankan hanyalah <strong>hukum kasih</strong>. Salah satu contohnya saat dia memilih untuk memberikan satu-satunya kitab suci di kelompok mereka kepada seorang ibu yang minta-minta. Ditinjau dari segi peraturan bahwa berdoa membutuhkan bacaan dari kitab suci itu. Dia hanya menjalankan peraturan selama itu tidak melanggar hukum kasih.</p>
<p>Bagaimana dengan kita? mungkin saat melihat pengemis meminta-minta dan ingat peraturan pemerintah. Bahwa di Jakarta Anda tidak boleh memberikan sedekah di lampu merah. Padahal dengan mata kepala Anda melihat orang tersebut sangat membutuhkan. Beranikah kita untuk melakukan pelanggaran <strong>peraturan manusia </strong>demi melakukan hukum mengasihi sesama?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/undang-undang-dasar-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

