Tag Archives: kasih

Musibah di Tahun Baru

Sebagian besar orang mengharapkan di awal tahun kondisi menjadi semakin baik. Sayangnya tidak semua orang mengalami hal ini. Berikut sebuah rentetan musibah pada keluarga besar yang saya kenal.

  1. Anak lelaki beruntun meninggal, sekaligus dalam waktu berdekatan – 3 anak lelakinya meninggal.
  2. Pernikahan ke-2 dari suami yang sangat dicintai.
  3. Anak masuk rumah sakit, saat berlibur di puncak anak ke-2 panas tinggi dan kejang-kejang.
  4. Seorang ibu depresi berat dan koma, memikirkan keputusan kakaknya (poin ke-2) untuk menikah kembali. Ibu ini masih berusia 31 tahun dan menderita diabetes.

Setiap saat masalah akan selalu datang – tidak peduli di tahun baru, saat ulang tahun ataupun hari lain yang bahkan dianggap suci. Tuhan tidak menutup mata - semata-mata musibah ini untuk memberitahu kita bahwa manusia kita tidak dapat hidup tanpa Tuhan.

Bagaimana bila itu terjadi pada keluarga kita?

Pendidikan Orang Cacat

Artikel ini tentang kepedulian kepada penyandang cacat. Sebelum bulan kemarin saya tidak pernah memikirkan mereka.Bertemu Ferry membuka mata saya. Dia adalah penyandang tuna netra yang beruntung. Beruntung karena ketuna netraannya masih memberikan pekerjaan.

Yang tidak beruntung lalu seperti apa? Makan daun tanpa pakai nasi. Mengiris hati bila mendengar cerita mereka. Ini fakta temuan saat Biro Tuna Netra Laetitia mengadakan kunjungan rutin kepada anggota mereka. Para anggotanya memang mendapat pelatihan untuk keterampilan tertentu, menyanyi dan memijat. Namun itu tidak cukup.

Salah satu cerita sedih seorang penyanyi tuna netra adalah saat menjadi penyanyi mantenan (kawinan). Tamu-tamu yang datang nyeletuk, “Kok manggil penyanyi buta. Nanti calon anakmu ketularan buta”. Duh Gusti tega nian tamu itu.

Cerita lain datang dari teman Ferry. Dia tuna rungu sehingga bicarapun menjadi sulit. Saat dia masih kecil sering dihina dan ditolak masuk kelas agama. Gurunya tidak mau menerima gara-gara tuna rungu. Akhirnya cuma guru agama Katholik yang mau menerima dia.

Buat teman-teman yang tergerak hatinya silahkan menghubungi CPC di (021)3440172.

Peraturan Utama Yesus

Anak Anda lahir memerlukan akte kelahiran, setelah itu sekolah membutuhkan ijasah, bila telah menikah harus memiliki akte pernikahan di catatan sipil, dan matipun harus pakai akte kematian. Itu semua telah diatur dalam undang-undang ataupun peraturan lainnya. Seluruh hidup Anda harus mengikuti aturan.

Gereja Katholik pun memiliki seperangkat aturan (yang dibuat manusia). Ada buku katekismus, dokumen-dokumen Konsili dan ajaran gereja, lalu ada Kartu Keluarga, dan lain sebagainya. Semuanya memiliki aturan.

Saya pernah mendapat cerita dari teman yang aktif di sebuah kelompok kategorial. Kelompok ini luar biasa mapan dan telah berdiri sejak tahun 1921 di negara nun jauh di sana. Menyebar bahkan sampai ke Indonesia. Teman saya kemudian tertarik dan menjadi anggotanya. Semua memiliki aturan. Mulai dari cara berdoa, karya apa saja yang wajib dan tidak wajib dilakukan, bagaimana saat melakukan karya tersebut, doa apa saja yang harus didoakan. Saya kagum dengan keteraturan yang disediakan.

Ambilah contoh Peraturan Daerah DKI no.8 tahun 2007 – bahwa Anda tidak boleh lagi memberi sedekah kepada orang miskin. Saya menilai ini suatu keputusan yang baik di sisi ketertiban umum. Bahkan bila melanggar Anda dapat dihukum. Sebuah aturan lagi yang menentukan bagaimana Anda menolong orang. Pendapat teman-teman pada umumnya juga sangat logis, “Kalau Anda memberi sedekah pada orang miskin di lampu merah – itu namanya Anda membudayakan kemalasan mereka”. Berlawanan dengan Luk 6:9, saat Yesus menyembuhkan orang pada hari yang dilarang (Sabat). Sedemikian hebat aturan (manusia).

Ekstrimnya adalah karya kasih harus ada dalam koridor peraturan kelompok. Bukankah aturan dari Bapa hanya ada dua (Mat 22:37). Dan bukankah berbuat kasih hanya membutuhkan hati yang tulus tanpa kepura-puraan (Rom 12:9).

Teman-teman, lihat dan dengarkanlah suara hati Anda. Mana yang lebih penting, Hukum Kasih atau aturan manusia. Belalah Tuhan dengan menjalankan Hukum Kasih di atas hukum manusia.

Undang Undang Dasar Hidup

Orang merasa bila hidup di negara maju akan lebih indah. Segala sesuatu telah teratur. Bahkan pemerintah bertanggung jawab atas semua biaya mereka di masa tua. Baik itu untuk perawatan kesehatan, pendidikan, hidup lansia, keringanan pajak, uang saku dan lain sebagainya. Benarkah itu?

Terlepas dari kebenaran hal itu, peraturan menjadi bagian hidup mereka yang harus dijalani. Bahkan untuk berbuat baik pun ada aturan yang mengatur, contoh aturan Unterlassene Hilfeleistung milik negara Jerman. Lalu menjadi perkara baru saat setiap tindakan yang terkait harus ditelaah menurut hukum. Telaah itu terjadi sebab setiap pengabaian hukum (kewajiban) memberi konsekuensi hukum. Manusia lalu menjadi takut untuk berbuat/tidak berbuat baik.

Contoh lain yang terjadi di tingkat lokal, misal Jakarta.Seorang pengendara motor menjadi korban tabrak lari. Sopir taxi yang kemudian lewat harus berpikir lebih dua kali untuk menolongnya. Mengapa? karena hukum rimba ternyata masih berlaku di negara yang berstatus republik. Salah satu pasal hukum rimba itu adalah mengenai menolong korban tabrakan. Bila di saat kejadian tidak ada yang melihat dan Anda berhenti untuk menolong – maka kemungkinan Anda tertuduh sebagai penabrak adalah besar. Tanpa ketuk palu pengadilan, mobil taxi Anda dapat dihancurkan masa.

Takut mobilnya hancur maka sopir taxi itu berkata, “Ya mau gimana Pak, daripada mobil saya hancur”. Ternyata sopir taxi itu lebih takut kepada hukum rimba daripada hukuman melanggar lampu merah. Ini pengakuan warga negara yang berstatus republik dengan UUD 1945 sebagai dasar hukum.

Mengapa hidup tidak seperti St. Fransiskus dari Assisi? Seorang pemuda dari kalangan borjouis yang melepaskan segala kekayaan keluarganya. Hukum yang dia jalankan hanyalah hukum kasih. Salah satu contohnya saat dia memilih untuk memberikan satu-satunya kitab suci di kelompok mereka kepada seorang ibu yang minta-minta. Ditinjau dari segi peraturan bahwa berdoa membutuhkan bacaan dari kitab suci itu. Dia hanya menjalankan peraturan selama itu tidak melanggar hukum kasih.

Bagaimana dengan kita? mungkin saat melihat pengemis meminta-minta dan ingat peraturan pemerintah. Bahwa di Jakarta Anda tidak boleh memberikan sedekah di lampu merah. Padahal dengan mata kepala Anda melihat orang tersebut sangat membutuhkan. Beranikah kita untuk melakukan pelanggaran peraturan manusia demi melakukan hukum mengasihi sesama?

Manusia Yang Bermurah Hati

Anda dapat bernafas setiap hari, makan dan minum enak, punya keluarga/anak yang ganteng dan manis – tetap saja bilang kurang. Kadang memilih berkata, “Dasar tidak tahu diuntung” kepada orang yang sudah kita tolong namun tidak tahu berterima kasih.

Renungkan tiga pertanyaan ini:

  1. Apa arti kata kemurahan hati?
  2. Apa kemurahan hati Tuhan kepada saya seumur hidup ini?
  3. Apa kemurahan hati saya kepada keluarga seumur hidup ini?

Kemurahan Hati

Kemurahan Hati adalah kemauan/keinginan memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa diduga atau diminta. Benarkah setiap tindakan murah hati timbul karena keinginan sendiri? Siapakah orang lain itu? Pemberian seperti apa yang tanpa diminta/diduga?

Beberapa orang memilih untuk berkata, “Nanti dia jadi malas” saat bertemu pengemis. Pembenaran utama adalah saat melihat fisik dan usia pengemis yang relatif muda. Namun memberi kepada mereka dengan kemurahan hati adalah tidak menilai atau mempertimbangkan fisik dan usia. Tidak ada hitungan untung atau rugi saat memberi. Bahkan tanpa mengharapkan balasan.

Kemurahan Hati dari Tuhan

Bandingkan dengan udara yang kita hirup, alam yang ktia tempati, keluarga dan anak yang kita miliki. Semua adalah pemberian Tuhan. Jangan mengelak dengan berbicara bahwa seluruhnya merupakan hasil kerja manusia. Tidak masuk akal, buktinya setiap orang sakit yang membutuhkan oksigen harus membayar cukup mahal. Sedangkan saat sehat? Free of charge. Anda tidak harus membayar sepeserpun. Bukankah ini cukup membuktikan betapa Allah sangat murah hati?

Kemurahan Hatiku

Bila Allah sedemikian murah hati kepada manusia, bagaimana kita kepada keluarga atau orang lain? Bukankah pengemis juga saudara kita. Bahkan kadang seorang anak dalam keluarga tidak mendapatkan kemurahan hati seorang ayah/ibu. Ayah pergi pagi pulang petang dan memberikan hatinya untuk perusahaan di mana dia bekerja. Tanpa maksud mengabaikan fakta hidup bahwa seorang ayah harus bekerja.

Namun sempatkan waktu untuk berbagi bersama keluarga. Bermurah hatilah dalam hal waktu ini. Sejauh mana Anda bermurah hati?