<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cayadi Sutanto &#187; katolik</title>
	<atom:link href="http://blog.sutanto.or.id/tag/katolik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sutanto.or.id</link>
	<description>Ziarah batin</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Dec 2010 02:22:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Bakwan Arema Malang Serpong</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/catatan/bakwan-arema-malang-serpong/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/catatan/bakwan-arema-malang-serpong/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 15:27:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Manusia punya kenangan akan suatu cita rasa. Termasuk bakwan Malang langganan saya di Kediri. Ternyata komuni bersama Tuhan pun menimbulkan kenangan akan damai.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini cerita tentang Bakwan Malang. Saya orang Jawa Timur &#8211; Kediri tepatnya. Dulu waktu masih di Kediri,  tukang bakwan selalu keliling dengan gerobak. Tulisan di gerobaknya adalah Bakwan Malang. Setelah pindah ke Jakarta ada kangen untuk menikmati bakwan itu. Mungkin bukan pada basonya &#8211; tetapi pada gorengan yang gurih dengan campuran saos kecap, sambal dan sedikit garam. Kangen itu terobati setelah melahap 1 mangkuk bakwan.</p>
<p>Ingin mencicipi <strong>rasa</strong> yang dulu pernah saya nikmati. Demikian juga perasaan saat ini. Terkadang saya ingat awal kembali ke jalan Tuhan. Setiap hari saya mencoba untuk misa harian. Terkadang 1 minggu penuh saya lalui dengan misa sore. Terkadang 1 minggu saya tidak dapat misa sore. Kangen dengan rasa damai yang senantiasa hadir seusai misa.</p>
<p>Beberapa hari ini rasa <strong>duniawi</strong> muncul &#8211; tekanan akan pekerjaan, masalah dengan kesehatan mertua, kerinduan untuk bermain dengan anak-anak. Itu semua membuat rasa tidak menyenangkan. Lalu disela-sela permenungan, ada <strong>kangen akan damai</strong> yang diterima seusai misa. Kemana damai itu? atau mungkin karena belakangan ini jarang misa harian?</p>
<p>Yesus bilang, tubuhKu adalah benar-benar makanan dan darahKu adalah benar-benar minuman. Kangen akan tubuh dan darah Yesus seperti kangen akan rasa bakwan Malang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/catatan/bakwan-arema-malang-serpong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman di RS</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/catatan/pengalaman-di-rs/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/catatan/pengalaman-di-rs/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 02:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[pelayanan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Rumah Sakit adalah tempat kemanusiaan bagi pasien. Keluarga dengan keterbatasan pengetahuan medis harus mengandalkan kesehatan anggota keluarga mereka kepada dokter, suster dan staff medis. Namun ada baiknya keluarga menjadi kontrol atas kinerja RS.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kondisi ayah mertua masih kritis. Setelah 2 hari di RS. Ada kondisi tertentu yang mengejutkan saya (nama RS tidak perlu  disebutkan). Mulai dari standar operasional yang tidak sesuai logika saya sampai dengan nurani yang dibatasi oleh sistem buatan manusia.</p>
<p><strong>Pengalaman tetangga</strong>, di tahun awal RS itu buka tetangga saya sudah mencicipi fasilitas dan pelayanan mereka. Naas bagi dia dengan kondisi diabetes, mendapat pelayanan teh manis dengan gula tebu. Cerita ini muncul saat saya mengunjungi beliau bersama istri.</p>
<p><strong>Pengalaman saudara</strong>, 2 tahun berlalu dan sepupu istri masuk untuk perawatan diabetes juga. Saya pikir sudah berubah, ternyata sama saja. Di pagi hari ditawarkan sarapan menggunakan roti tawar, selai kacang, strawberry dll. Loh, ini perawatan untuk mengurangi diabetes atau  meningkatkan kadar diabetes.</p>
<p><strong>Pengalaman keluarga &#8211; ibu mertua</strong>, saat ibu mertua dirawat kami mendapat kejutan. Suatu pagi kami diminta tanda tangan untuk obat dengan harga &gt; 1jt. Untung sepupu (yang dirawat karena diabetes) pernah memberi warning &#8211; hati-hati kalau disuruh tanda tangan untuk obat. Istri saya langsung cek ke dokter dan memang tidak perlu.</p>
<p><strong>Pengalaman keluarga &#8211; ayah mertua</strong>, mulai dari tabung oksigen tidak lancar, selangnya copot, dokter jaga yang konfirmasi tidak mau lewat telepon, ambulans stand by tapi tidak boleh dipakai.</p>
<p>Istri saya harus selalu waspada saat obat datang (karena mungkin terjadi <em>salah </em>memberi obat), konfirmasi setiap saat dengan dokter, bekerja sama dengan suster jaga, belajar tentang penyakit yang sedang dialami, cerewet tanya ini dan itu kepada dokter, cross check tagihan dengan retur obat selama dirawat.</p>
<p>Apapun yang terjadi tetap saya berterima kasih kepada RS karena <em>niat dan usaha baik</em> mereka merawat mertua saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/catatan/pengalaman-di-rs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta akan Barang Duniawi &gt; Cinta akan Tuhan</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/cinta-barang-duniawi-cinta-akan-tuhan/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/cinta-barang-duniawi-cinta-akan-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 18:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Manusia kita bisa memiliki hasrat akan barang duniawi. Meskipun nilai barang tersebut tidaklah kekal. Mengapa kita tidak memiliki hasrat yang sama kepada Tuhan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup manusia kita seperti <strong>perjalanan </strong>di sebuah shopping centre. Kiri kanan dan sepanjang mata memandang terlihat etalase yang memamerkan produk. Mungkin ada satu atau dua produk yang menarik kita, bahkan sangat <strong>menarik</strong>. Setelah pulang &#8211; bayang-bayang baju yang bagus, gadget model terakhir yang mutakhir, atau barang-barang indah lainnya terus muncul. Lambat laun hati kita tertambat sedemikian rupa.</p>
<p>Beberapa orang bahkan menjadikan <strong>barang duniawi itu sebagai impian</strong>. Sesuatu yang manusia harus cintai dengan sangat adalah impian tersebut. Beberapa pakar atau motivator terkenal menekankan pentingnya <strong>hasrat akan sebuah impian</strong>. Seberapa penting? bila mungkin jadikan hasrat terhadap impian sebagai nafas dan roh dalam diri. Pernah mengalami atau membaca hal itu?</p>
<p>Nilai barang tersebut kian tahun kian <strong>menyusut</strong>. Entah karena nilai ekonomis, keawetan barang, unsur penuaan dan lain sebagainya. Namun hasrat yang manusia kita miliki toh tetap ada. Manusia kita namun belum tentu memiliki hasrat yang sedemikian menggebu untuk <strong>cinta akan Tuhan</strong>. Mengapa lebih mencintai barang duniawi &#8211; yang tidak kekal, daripada kepada Tuhan.</p>
<p>Tuhan memberikan segala sesuatu yang <strong>melebihi nilai duniawi</strong>. Entah itu kekayaan alam, udara yang kita hirup, kehidupan itu sendiri. Dan di antara barang milik Tuhan, hidup kekal sebagai suatu janji dengan nilai yang luar biasa. Apakah manusia kita pun memiliki hasrat akan impian hidup kekal di atas yang lainnya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/cinta-barang-duniawi-cinta-akan-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Kitab Suci adalah Bercermin</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/membaca-kitab-suci-adalah-bercermin/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/membaca-kitab-suci-adalah-bercermin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 15:15:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Kitab Suci sungguh membantu memperlihatkan siapa kita. Bila Yesus ada di hati kita, semua permintaan kita akan dia penuhi. Namun pertobatan menjadi syarat mutlak bagi manusia kita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kitab Suci bukan sekedar hiasan pemanis rak buku lagi. Dulu mendengar bacaan kitab suci di gereja bukan suatu hal yang menarik. Apalagi membaca secara pribadi di rumah. Bahasa yang sulit dimengerti, kata-kata Yesus yang penuh contoh &#8211; <em>mulek koyo susur</em> kata orang Jerman, kiasan-kiasan yang terlalu indah, janji-janji muluk seperti asap. Tidak pernah memang saat itu ada waktu khusus untuk merenung atau berkontemplasi atas Firman Allah.</p>
<p>Sampai suatu saat, pertobatan (<em>metanoia</em>) terjadi. Maret 2005, Tuhan bukan sekedar mitos lagi. Oktober 2005, di bawah bimbingan Robby Lukitama &#8211; pendiri dan konselor Komunitas St. Leopold terjadi perubahan yang lebih dalam. Hati dan pikiran berubah 180 derajat kembali ke Tuhan. Mendapat tugas sebagai pewarta mendekatkan diri kepada Firman.</p>
<p>Bagi saya kedekatan itu adalah buah karya Roh Kudus. Buah dari pertobatan batiniah membuka mata hati dan pikiran. Semakin lama ajaran Yesus dalam kitab suci semakin menarik. Liturgi Sabda dan homili menjadi suatu hal yang menarik. Hal ini hanya dan dapat terjadi bila manusia kita mengalami pertobatan sejati. Untuk itu saya sharingkan apa yang terjadi pada saat-saat teduh (pribadi) bersama Firman Allah.</p>
<p> </p>
<ul>
<li><strong>Akal budi bekerja</strong>, membaca kitab suci menggunakan akal budi sepenuhnya. Akal budi adalah karunia bagi manusia yang tidak dimiliki oleh ciptaan Tuhan lainnya. Artinya semua manusia dapat membaca dan menangkap arti dari setiap firman yang tertulis.</li>
<li><strong>Mendengar</strong>, saat membaca secara pribadi &#8211; ada hubungan pribadi pula. Firman itu seakan-akan hanya ditujukan bagi kita. Saat Liturgi Sabda seharusnya pun kita mendengar dengan seksama. Sehingga Sabda itu berbicara secara pribadi dengan kita. Pribadi artinya seluruh sisi kehidupan manusia secara individu.</li>
<li><strong>Merenungkan</strong>, menjadikan arti dari setiap kata pada Firman sebagai cermin. Terkadang suatu perumpamaan atau kalimat pada kitab suci adalah citra diri kita. Suatu hari kita sedang pusing dengan segala masalah yang ada. Kekhawatiran muncul seakan-akan dunia akan runtuh menimpa kita. Lalu saat membaca sabda Tuhan berkata, &#8221;Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?&#8221; (Mat 6:25) &#8211; di situ Tuhan berkata kepada kita secara pribadi. Firman Allah adalah teguran, nasihat, dan penghiburan.</li>
<li><strong>Melakukan</strong>, tanpa perbuatan maka sia-sialah Firman yang didengar. Ajaran Kasih oleh Yesus adalah hukum yang paling utama. Namun apa artinya bila saat bersama keluarga sering marah dan mudah tersinggung. Aktif dan tekun berdoa namun tidak memancarkan kasih dalam hidup sehari-hari &#8211; itu adalah sia-sia.</li>
</ul>
<p>Firman Allah sungguh cermin yang mampu membersihkan. Melalui akal budi, mendengarkan dengan hati, dan melakukannya. Setiap hari dapat menjadi momen indah bersamaNya. Lambat laun menjadi pribadi seperti Yesus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/membaca-kitab-suci-adalah-bercermin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyapu KRL Unofficial</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/penyapu-krl-unofficial/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/penyapu-krl-unofficial/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 13:08:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[pelayanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Setiap manusia memiliki tugas yang tidak resmi dari Tuhan. Apapun itu namun memberikan hasil hidup damai dan sejahtera.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang hari itu saya pulang lebih awal dari kantor karena sakit. Pilihan kereta api listrik ke Serpong hanyalah KRL Ekonomi. Kereta ini termasuk murah karena tiketnya hanya 1.500 rupiah. Full AC dari seluruh jendela dan pintu yang terbuka lebar. Sengaja saya pilih satu sudut yang terlindung dari angin.</p>
<p>Di depan saya duduk ternyata ada seorang ibu penjual nasi. Lauknya gorengan, sayur orek dan jengkol serta ikan masak pedas. Beberapa penjual asongan datang untuk makan siang. Rata-rata mereka membayar 5.000 rupiah, termasuk segelas aqua. Sampai satu saat seorang anak berumur 12 tahunan membeli makananan. Dia bilang, &#8220;Bu makan ya, 2.000 saja&#8221;. Dapat apa dia dengan 2.000? Ternyata masih dapat sayur jengkol dan kuah. Anak ini adalah <strong>pekerja unofficial</strong> dari PJKA. Fotonya ada di <a title="Lihat foto anak di kereta" href="http://csutanto.blogspot.com/2008/10/makan-siang-2rb.html" target="_blank">Photo Blog</a> saya.</p>
<p>Saya katakan unofficial karena dia menjaga kebersihan kereta PJKA namun tidak menggunakan seragam. Hidup kita pun memiliki tugas unofficial dari Tuhan. Mengapa unofficial?</p>
<ul>
<li>Karena <strong>tidak tampak seperti seharusnya</strong>, Bunda Maria adalah bunda Tuhan. Yang melahirkan dan menjaga Yesus dari kecil hingga masa Dia berkarya. Namun Bunda Tuhan tidak memiliki kemewahan seorang bunda raja.</li>
<li>Karena hanya punya <strong>kontrak sederhana</strong>, bahwa manusia hidup hanya memiliki satu tujuan, mengabdi Tuhan. Hanya memiliki satu aturan &#8211; yaitu Hukum Kasih.</li>
<li>Karena <strong>sewaktu-waktu kembali ke Tuhan</strong>, apa yang manusia miliki? hanya kebebasan. Uang, nyawa, kesehatan, pangkat, pekerjaan, dan kepemilikan lainnya tidak dapat Anda pertahankan. Kalau itu semua miliki Anda pasti dapat dipertahankan. Sebagai contoh adalah nyawa, tidak ada manusia yang dapat mempertahankan nyawanya sendiri.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/penyapu-krl-unofficial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Ikut Lehman Brothers</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/catatan/jangan-ikut-lehman-brothers/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/catatan/jangan-ikut-lehman-brothers/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 11:54:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Biji pohon Australian Eucalyptus hanya sebesar 1.5cm. Namun dengan hukum alam mampu bertumbuh setinggi 150m. Manusia kita yang serakah tidak mau memulai usaha dari kecil. Maunya menggunakan kredit untuk memulai usahanya besar-besaran. Manusia kita tidak dapat melawan hukum alam.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Yono adalah teman baru di kereta. Dia bekerja di perusahaan konsultan energi sambil mencari nafkah tambahan sebagai agen asuransi. Salah satu pembicaraan yang menarik adalah tentang bagaimana ia membeli rumahnya. Sebagai orang <strong>miskin</strong>, akunya. Ia tidak memiliki cukup uang untuk down payment BTN. Namun dengan gagah berani ia membeli sebuah rumah dengan cara sedikit &#8220;<strong>mengakali</strong>&#8220;. Idenya adalah menjadikan rumah tersebut jaminan Bank dan menggunakan kucuran <strong>kredit </strong>untuk membeli rumah.</p>
<p>Benar atau tidak tindakan beliau silahkan pembaca menilai sendiri. Sudut pandang yang ingin saya tampilkan adalah semua tanaman selalu berawal dari <strong>benih</strong>. Benih itu kecil, ringan, mudah hancur dan kalau dibuang ke tanah tidak terlihat. Menurut eyang Google pohon yang paling tinggi adalah <strong>Australian Eucalyptus</strong> yaitu berkisar pada 150m. Fakta yang mengejutkan benih dari pohon ini adalah sekitar 0.5mm s.d. 1.5cm. Artinya pembesarannya adalah 150.000 kali. Hukum alam yang luar biasa.</p>
<p>Banyak manusia kita yang di awal hidupnya <strong>ingin langsung menjadi besar</strong>. Bahasa grosirannya adalah <strong>instan</strong>. Seperti pak Yono yang tidak punya uang namun ingin segera memiliki rumah. Budaya instan ini membuat manusia tidak mau berusaha dari bawah. Tahun 2008 merupakan momok bagi <strong>Lehman Brothers </strong>(bukan pak Leman tukang foto kopi kantor saya). Kredit terus mengucur untuk membangun maha karya properti. Buntut-buntutnya macet &#8211; dan krisis ekonomi global terjadi.</p>
<p>Dunia kita memang gila. Bentukan abstrak manusia ini mampu menarik <strong>ego </strong>dan <strong>nafsu serakah</strong> kita. Menyanyikan lagu nina bobo dengan judul Kredit Bermasalah. Kalau bisa pakai dulu ngapain harus bayar? Pesan tersembunyi ini mampu mengubah paradigma usaha. Siapa yang perlu mulai dari kecil.</p>
<p>Berbeda dengan pola kebanyakan, saya punya teman yang menyarankan untuk membangun bisnis secara <strong>organis</strong>. Awalnya sulit untuk menerima ide dia. Namun sekarang saya mulai mengerti. Tuhan memberikan bibit pohon Eucalyptus dalam ukuran yang sangat kecil. Namun bisa membesarkannya setinggi 150m. Mengapa kita tidak mengikuti hukum alam ini. Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/catatan/jangan-ikut-lehman-brothers/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Orang Cacat</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/catatan/pendidikan-orang-cacat/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/catatan/pendidikan-orang-cacat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 01:11:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Anda tidak akan peduli Penyandang Cacat sampai bertemu dan mendengar kisah mereka. Artikel ini sedikit menguak kisah sedih penyandang cacat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel ini tentang kepedulian kepada penyandang cacat. Sebelum bulan kemarin saya tidak pernah memikirkan mereka.Bertemu Ferry membuka mata saya. Dia adalah penyandang tuna netra yang beruntung. Beruntung karena ketuna netraannya masih memberikan pekerjaan.</p>
<p>Yang tidak beruntung lalu seperti apa? Makan daun tanpa pakai nasi. Mengiris hati bila mendengar cerita mereka. Ini fakta temuan saat <a title="Lihat web site Biro Tuna Netra Laetitia" href="http://www.btl-ldd.org/" target="_blank">Biro Tuna Netra Laetitia</a> mengadakan kunjungan rutin kepada anggota mereka. Para anggotanya memang mendapat pelatihan untuk keterampilan tertentu, menyanyi dan memijat. Namun itu tidak cukup.</p>
<p>Salah satu cerita sedih seorang penyanyi tuna netra adalah saat menjadi penyanyi <em>mantenan</em> (kawinan). Tamu-tamu yang datang <em>nyeletuk</em>, &#8220;Kok manggil penyanyi buta. Nanti calon anakmu ketularan buta&#8221;. <em>Duh Gusti</em> tega nian tamu itu.</p>
<p>Cerita lain datang dari teman Ferry. Dia tuna rungu sehingga bicarapun menjadi sulit. Saat dia masih kecil sering dihina dan ditolak masuk kelas agama. Gurunya tidak mau menerima gara-gara tuna rungu. Akhirnya cuma guru agama Katholik yang mau menerima dia.</p>
<p>Buat teman-teman yang tergerak hatinya silahkan menghubungi <a title="Lihat tentang CPC (Club Peduli Cacat)" href="http://www.btl-ldd.org/cpc" target="_blank">CPC</a> di (021)3440172.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/catatan/pendidikan-orang-cacat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

