<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cayadi Sutanto &#187; keluarga</title>
	<atom:link href="http://blog.sutanto.or.id/tag/keluarga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sutanto.or.id</link>
	<description>Lagi getol naik sepeda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Jul 2010 06:24:16 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Musibah di Tahun Baru</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/musibah-di-tahun-baru/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/musibah-di-tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 18:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Tidak semua keluarga merasakan kebahagiaan tahun baru. Ada dari sebagian keluarga tersebut malah dirundung masalah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian besar orang mengharapkan di awal tahun <strong>kondisi menjadi semakin baik</strong>. Sayangnya tidak semua orang mengalami hal ini. Berikut sebuah rentetan musibah pada keluarga besar yang saya kenal.</p>
<ol>
<li>Anak lelaki <strong>beruntun meninggal</strong>, sekaligus dalam waktu berdekatan &#8211; 3 anak lelakinya meninggal.</li>
<li><strong>Pernikahan ke-2</strong> dari suami yang sangat dicintai.</li>
<li>Anak <strong>masuk rumah sakit</strong>, saat berlibur di puncak anak ke-2 panas tinggi dan kejang-kejang.</li>
<li>Seorang ibu <strong>depresi berat</strong> dan <strong>koma</strong>, memikirkan keputusan kakaknya (poin ke-2) untuk menikah kembali. Ibu ini masih berusia 31 tahun dan menderita diabetes.</li>
</ol>
<p>Setiap saat masalah akan selalu datang &#8211; tidak peduli di tahun baru, saat ulang tahun ataupun hari lain yang bahkan dianggap suci. <strong>Tuhan tidak menutup mata </strong>- semata-mata musibah ini untuk memberitahu kita bahwa manusia kita tidak dapat hidup tanpa Tuhan.</p>
<p>Bagaimana bila itu terjadi pada keluarga kita?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/musibah-di-tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pulang Mudik</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/pulang-mudik/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/pulang-mudik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 11:43:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Mudik berarti pulang ke kampung halaman. Kembali dari mudik artinya pulang ke rumah kita sesungguhnya. Rumah kita adalah tempat di mana kedamaian hadir.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lebaran identik dengan <strong>mudik</strong>. Demikian pula keluarga kami. Seminggu lalu perjalanan pulang ke Lampung berjalan lancar. Berangkat di saat orang belum mulai berangkat dan pulang sebelum arus balik tiba. Ada perasaan lega setelah kembali dari mudik.</p>
<p>Perasaan kembali ke <strong>rumah sesungguhnya</strong> sangat melegakan. Sebagai keterangan, rumah kami saat ini sebenarnya hanyalah <strong>kontrakan</strong> dari ibu Haji di Meruya. Namun rumah itu telah bersama kami selama 5 tahun terakhir. Demikian indah masa tinggal di sini. Terutama karena memiliki lingkungan gereja yang sangat rukun. Ada damai di dalam lingkungan ini.</p>
<p>Kata pulang itu kemudian lebih berarti di mana kita tinggal dan merasakan <strong>kedamaian</strong>. Rumah kemudian adalah lokasi di mana kita telah menghabiskan <strong>waktu </strong>lebih lama dibanding tempat lain. Pulang dan rumah seperti hidup kita saat ini. Tinggal di dunia bersama keluarga dan tetangga adalah rumah yang kita saat ini.</p>
<p>Damai yang memberi arti pada rumah di dunia fana adalah penentu. Damai yang datang bila kita bersatu dengan Tuhan. Saya tidak dapat memaksa orang untuk mengikuti damai versi saya. Meskipun ada keinginan besar untuk berbagi damai ini. Rumah kita sesungguhnya mungkin adalah saat kita kembali kepada Bapa.</p>
<p>Terberkatilah Anda yang memiliki rumah sendiri, keluarga yang harmonis, karya pekerjaan yang lancar dan kecintaan berbagi dengan sesama. Terpujilah Tuhan yang memberikan itu semua kepada Anda dan keluarga.</p>
<p>Selamat Lebaran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/pulang-mudik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hipnotis Sebuah Iklan</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/hipnotis-sebuah-iklan/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/hipnotis-sebuah-iklan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 08:54:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Semakin maju sebuah kebudayaan semakin manusia dibombardir kemudahan dan gaya hidup. Iklan merupakan pasukan perang para produsen. Manusia kita yang tidak siap akan menjadi target serangan iklan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti biasanya saya menonton siaran TV setelah mandi dan makan malam. Merubah saluran TV maju dan mundur ternyata menghasilkan acara yang sama, <strong>siaran iklan</strong>. Seluruh barang konsumer bersimpang siur di layar televisi. Taktik marketingnya adalah <strong>hipnotis pemirsa</strong> dengan bombardir iklan per 5 menit.</p>
<p>Jaman ini telah muncul spesies baru, <strong>manusia kita</strong>. Yaitu manusia dengan tingkat kehausan konsumtif akan segala macam barang/gaya hidup. Kebutuhan hidup manusia kita sekarang adalah makan malam di restoran, rumah dengan sistem cluster, susu formula dengan DHA, telepon genggam dengan kemampuan multimedia, sekolah internasional multi bahasa, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Kebutuhan itu seakan-akan menjadi hal yang wajar. Sebab siapa yang mau makan seadanya, tinggal di gubuk reot, tidak menginginkan anaknya sehat dari susu formula, punya pendidikan di sekolah yang bagus. Lalu apa yang terjadi? Manusia kita akan berkata, &#8220;Saya mau memberikan yang terbaik&#8221; &#8211; meskipun <strong>belum mampu</strong>.</p>
<p>Para pembuat / pemasang iklan tahu <strong>kelemahan manusia</strong>. Saya katakan kelemahan karena masih ada yang mampu membedakan kebutuhan nyata. Mereka yang sadar tidak memberikan jiwanya sebagai <strong>makanan iklan</strong>. Sebab perlu diingat, manusia punya kelebihan dibanding binatang yaitu <strong>akal budi </strong>dan <strong>jiwa</strong>. Dua mesin anugerah Tuhan untuk mampu mengontrol tindakan dan menimbang konsekuensinya.</p>
<p>Gunakan akal budi dan jiwa sebagai alat pengukur radiasi iklan media masa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/hipnotis-sebuah-iklan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendidik Anak untuk Mengepalkan Tangan</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/mendidik-anak-untuk-mengepalkan-tangan/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/mendidik-anak-untuk-mengepalkan-tangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 07:44:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Kita dengan sengaja atau tidak menerima pendidikan yang menadahkan tangan. Dan lalu kita meneruskan pendidikan itu kepada anak. Sebaiknya kita mengajar mereka untuk mengepalkan tangan - berjuang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita mendidik (baca:pemrograman pikiran) anak tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup. Mulai dari sejak masa kita sekolah sampai dengan pola politik. Di dunia sekolah kita mengalami murid belajar dengan hanya mendengar pengajaran guru. Di dunia keluarga kita mengalami seorang anak tidak pernah tidak harus mengikuti apa kata orang tua. Di dunia politik kita melihat banyak program yang memberi ikan daripada pancing.</p>
<p>Saya pun melakukan pembodohan itu. Suatu sore anak saya minta ijin untuk keluar bermain sepeda. Kebetulan suhu badannya agak tinggi. Saya berkata dengan lembut, &#8220;Sebaiknya jangan nak&#8221;. Kata-kata itu memberi efek kecil saja. Terbukti dia tetap ngotot keluar dan merengek-rengek. Akhirnya saya hanya menjawab, &#8220;<strong>Pokoknya tidak boleh</strong>&#8220;.</p>
<p>Sadar atau tidak. Mengatakan pokoknya mendidik anak untuk hanya menerima. Hanya menerima sampai saat negara ini harus mengalami reformasi. Hanya? kata-kata yang kuat bila dilihat dari imbasnya.</p>
<p>Mereka yang menadahkan tangan akan:</p>
<ul>
<li>Takut bila memiliki masalah.</li>
<li>Lebih baik diam daripada bicara.</li>
<li>Sungkan untuk berkompetisi terutama dengan seniornya (meskipun terkadang salah).</li>
<li>Menunggu daripada pergi mencari pemecahan masalah.</li>
<li>dan masih banyak lagi.</li>
</ul>
<p>Sadarkah kita? seharusnya mendidik anak adalah dengan <strong>mengeluarkan potensi</strong> mereka. Ambillah contoh saat anak masih kecil dan selalu bertanya, &#8220;Apa ini?Apa itu?&#8221;. Itulah potensi belajar anak. Secara semangat itulah <strong>mengepalkan tangan</strong>. Mereka berjuang untuk mengenal lingkungannya. Kita hanya sebagai katalisator atau fasilitator.</p>
<p>Namun mengapa setelah besar banyak anak yang malas untuk belajar? Kata teman saya, &#8220;Salah siapa?&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/mendidik-anak-untuk-mengepalkan-tangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia Yang Bermurah Hati</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/manusia-yang-bermurah-hati/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/manusia-yang-bermurah-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 15:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[murah hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Manusia harus bermurah hati terutama kepada keluarga, karena Tuhan juga telah bermurah hati. Udara, tubuh, kemampuan untuk makan/minum dan kebolehan untuk menikmati rasa gembira.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda dapat bernafas setiap hari, makan dan minum enak, punya keluarga/anak yang ganteng dan manis &#8211; tetap saja bilang kurang. Kadang memilih berkata, &#8220;Dasar tidak tahu diuntung&#8221; kepada orang yang sudah kita tolong namun tidak tahu berterima kasih.</p>
<p>Renungkan tiga pertanyaan ini:</p>
<ol>
<li>Apa <strong>arti kata </strong>kemurahan hati?</li>
<li>Apa kemurahan hati <strong>Tuhan kepada saya </strong>seumur hidup ini?</li>
<li>Apa kemurahan hati <strong>saya kepada keluarga</strong> seumur hidup ini?</li>
</ol>
<h2>Kemurahan Hati</h2>
<p>Kemurahan Hati adalah kemauan/keinginan memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa diduga atau diminta. Benarkah setiap tindakan murah hati timbul karena keinginan sendiri? Siapakah orang lain itu? Pemberian seperti apa yang tanpa diminta/diduga?</p>
<p>Beberapa orang memilih untuk berkata, &#8220;Nanti dia jadi malas&#8221; saat bertemu pengemis. Pembenaran utama adalah saat melihat fisik dan usia pengemis yang relatif muda. Namun memberi kepada mereka dengan kemurahan hati adalah <strong>tidak menilai</strong> atau mempertimbangkan fisik dan usia. Tidak ada hitungan untung atau rugi saat memberi. Bahkan tanpa mengharapkan balasan.</p>
<h2>Kemurahan Hati dari Tuhan</h2>
<p>Bandingkan dengan udara yang kita hirup, alam yang ktia tempati, keluarga dan anak yang kita miliki. Semua adalah pemberian Tuhan. Jangan mengelak dengan berbicara bahwa seluruhnya merupakan hasil kerja manusia. Tidak masuk akal, buktinya setiap orang sakit yang membutuhkan oksigen harus membayar cukup mahal. Sedangkan saat sehat? Free of charge. Anda tidak harus membayar sepeserpun. Bukankah ini cukup membuktikan betapa Allah sangat murah hati?</p>
<h2>Kemurahan Hatiku</h2>
<p>Bila Allah sedemikian murah hati kepada manusia, bagaimana kita kepada keluarga atau orang lain? Bukankah pengemis juga saudara kita. Bahkan kadang seorang anak dalam keluarga tidak mendapatkan kemurahan hati seorang ayah/ibu. Ayah pergi pagi pulang petang dan memberikan hatinya untuk perusahaan di mana dia bekerja. Tanpa maksud mengabaikan fakta hidup bahwa seorang ayah harus bekerja.</p>
<p>Namun sempatkan waktu untuk berbagi bersama keluarga. Bermurah hatilah dalam hal waktu ini. Sejauh mana Anda bermurah hati?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/manusia-yang-bermurah-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
