<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cayadi Sutanto &#187; tindakan</title>
	<atom:link href="http://blog.sutanto.or.id/tag/tindakan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sutanto.or.id</link>
	<description>Lagi getol naik sepeda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Jul 2010 06:24:16 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Alasan untuk Bike to Work</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/catatan/alasan-untuk-bike-to-work/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/catatan/alasan-untuk-bike-to-work/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 06:23:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[fitnes]]></category>
		<category><![CDATA[sehat]]></category>
		<category><![CDATA[sepeda]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa saya memutuskan bike to work? Bukan sok sehat, tetapi mencoba mengikuti saran kesehatan. Meskipun pada akhirnya Tuhan juga yang memutuskan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin sore saya mendapat pertanyaan. &#8220;Mengapa bersepeda ke kantor?&#8221;, laki-laki yang perutnya sedikit buncit itu mungkin berusian 40 s.d. 45 tahun. Rapi, rambut sedikit putih, gemar olah raga golf dan kerja di salah satu bank. Kami bertemu di atas kereta Serpong. Sudah <a href="http://blog.sutanto.or.id/catatan/ulang-tahun-pertama-sepeda-lipat-ku/">setahun usaha</a> bike to work ini berjalan.</p>
<p>Berikut jawaban standar saya untuk pertanyaaan itu</p>
<ol>
<li><strong>Otot jantung</strong>, saya belum terkena penyakit jantung. Tetapi dokter Rumah Sakit Jakarta melihat otot jantung bagian memiliki kontraksi tidak sekuat otot jantung bagian bawah. Solusi yang terbaik saat itu adalah olah raga.</li>
<li><strong>Profesi</strong>, sebagai ahli komputer kegiatan fisik terdekat adalah menggerakan jari di atas keyboard.</li>
<li><strong>Joseph Marino</strong>, tetangga yang satu ini menunjukan betapa naik sepeda lipat itu menyenangkan. Sejujurnya dia juga yang membantu memilihkan sepeda.</li>
<li><strong>Sepeda lipat</strong>, waktu itu kendaraan rutin yang dipergunakan adalah sepeda motor dan kereta. Menggunakan sepeda 100% dari rumah ke kantor tidak memungkinkan. Syukurnya ada teknologi sepeda lipat ini. Saya memilih <a href="http://www.dahon.com/bikes/2010/eco-3" target="_blank">Dahon</a>.</li>
<li><strong>Asam urat, kolestrol dan obesitas</strong>, tiga hal yang terkait satu sama lain dan sudah menimbulkan efek kurang menyenangkan. Ujungnya adalah obesitas &#8211; pola makan yang memicu penimbunan lemak dan mengurangi kemampuan tubuh membuang purin.</li>
</ol>
<p>Bukan sok sehat, tetapi mencoba mengikuti saran kesehatan. Capek juga kalau setiap bangun tidur kaki kesemutan, pinggang ngilu, pilek sering datang dan sulit membungkuk karena perut kegendutan. Rencananya ingin punya badan sehat, tetapi <a href="http://blog.sutanto.or.id/renungan/musibah-di-tahun-baru/">musibah bisa terjadi kapan saja</a>. Akhirnya Tuhan juga yang memutuskan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/catatan/alasan-untuk-bike-to-work/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Facebook plus atau minus untuk kemampuan sosialisasi</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/catatan/facebook-plus-atau-minus-untuk-kemampuan-sosialisasi/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/catatan/facebook-plus-atau-minus-untuk-kemampuan-sosialisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 09:12:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Tren jejaring sosial di internet marak muncul. Baik kalangan tua muda, pekerja atau pengusaha, dan kalangan lainnya. Jumlah teman banyak - apakah ini berarti Anda pintar bersosialisasi?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya dan istri belakangan ini keranjingan jejaring sosial Facebook. Tujuan awalnya karena ingin kembali berjumpa dengan teman kuliah kami. Dan memang benar. Kami &#8216;bertemu kembali&#8217; dengan mereka. Setelah add new friend teman kuliah (old friend lebih tepatnya), jejaring itu meluas ke tetangga dan saudara-saudari di gereja.</p>
<p>Situs ini memang memberikan fasilitas yang bagus. Melihat profil, saling memberi kabar, diingatkan kala teman ada yang berulang tahun, saling memberi hadiah virtual. Saat ulang tahun lalu menjadi momen saling memberi ucapan selamat &#8211; melalui komentar di dinding atau mengirim pesan pribadi.</p>
<p>Kejanggalan terjadi setelah beberapa kali saya memberi ucapan selamat ulang tahun. Saya lebih sering mengucapkan selamat ulang tahun lewat situs ini. Relasi kemudian menjadi hangat dan akrab. Namun apakah ini berarti kemampuan bersosialisasi saya meningkat?</p>
<p>Memang jaman dulu kepintaran bersosialisasi terlihat dari berapa jumlah teman. Atau mungkin bagaimana meriahnya suasana saat orang ini hadir. Orang yang berperilaku diam/jarang bicara saat berkumpul bukan termasuk kategori pintar bergaul. Jadi bila jumlah teman sedikit, kehadiran anda tidak diperhitungkan (boleh ada atau tidak), kalu berkumpull cuma diam saja maka merk dagang personal anda adalah tidak pandai bergaul &#8211; kurang kemampuan sosialisasi.</p>
<p>Teori masa kecil ini lalu membingungkan saat media komunikasi berupa jejaring sosial internet. Betapa tidak, semua orang bisa menambah jumlah teman setelah menekan tombol add friend. Lalu masuk ke daftar kenalan teman baru dan tekan tombol add friend lagi. Kalau ada yang ulang tahun tinggal memberi komentar atau menulis di dinding orang tersebut. Semua dapat kita lakukan tanpa pernah bertemu secara fisik.</p>
<p>Ini yang bagi saya menjadi pertanyaan &#8211; jadi sebenarnya memakai facebook itu menambah atau mengurangi kemampuan bersosialisasi. Ada komentar?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/catatan/facebook-plus-atau-minus-untuk-kemampuan-sosialisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Kitab Suci adalah Bercermin</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/membaca-kitab-suci-adalah-bercermin/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/membaca-kitab-suci-adalah-bercermin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 15:15:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Kitab Suci sungguh membantu memperlihatkan siapa kita. Bila Yesus ada di hati kita, semua permintaan kita akan dia penuhi. Namun pertobatan menjadi syarat mutlak bagi manusia kita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kitab Suci bukan sekedar hiasan pemanis rak buku lagi. Dulu mendengar bacaan kitab suci di gereja bukan suatu hal yang menarik. Apalagi membaca secara pribadi di rumah. Bahasa yang sulit dimengerti, kata-kata Yesus yang penuh contoh &#8211; <em>mulek koyo susur</em> kata orang Jerman, kiasan-kiasan yang terlalu indah, janji-janji muluk seperti asap. Tidak pernah memang saat itu ada waktu khusus untuk merenung atau berkontemplasi atas Firman Allah.</p>
<p>Sampai suatu saat, pertobatan (<em>metanoia</em>) terjadi. Maret 2005, Tuhan bukan sekedar mitos lagi. Oktober 2005, di bawah bimbingan Robby Lukitama &#8211; pendiri dan konselor Komunitas St. Leopold terjadi perubahan yang lebih dalam. Hati dan pikiran berubah 180 derajat kembali ke Tuhan. Mendapat tugas sebagai pewarta mendekatkan diri kepada Firman.</p>
<p>Bagi saya kedekatan itu adalah buah karya Roh Kudus. Buah dari pertobatan batiniah membuka mata hati dan pikiran. Semakin lama ajaran Yesus dalam kitab suci semakin menarik. Liturgi Sabda dan homili menjadi suatu hal yang menarik. Hal ini hanya dan dapat terjadi bila manusia kita mengalami pertobatan sejati. Untuk itu saya sharingkan apa yang terjadi pada saat-saat teduh (pribadi) bersama Firman Allah.</p>
<p> </p>
<ul>
<li><strong>Akal budi bekerja</strong>, membaca kitab suci menggunakan akal budi sepenuhnya. Akal budi adalah karunia bagi manusia yang tidak dimiliki oleh ciptaan Tuhan lainnya. Artinya semua manusia dapat membaca dan menangkap arti dari setiap firman yang tertulis.</li>
<li><strong>Mendengar</strong>, saat membaca secara pribadi &#8211; ada hubungan pribadi pula. Firman itu seakan-akan hanya ditujukan bagi kita. Saat Liturgi Sabda seharusnya pun kita mendengar dengan seksama. Sehingga Sabda itu berbicara secara pribadi dengan kita. Pribadi artinya seluruh sisi kehidupan manusia secara individu.</li>
<li><strong>Merenungkan</strong>, menjadikan arti dari setiap kata pada Firman sebagai cermin. Terkadang suatu perumpamaan atau kalimat pada kitab suci adalah citra diri kita. Suatu hari kita sedang pusing dengan segala masalah yang ada. Kekhawatiran muncul seakan-akan dunia akan runtuh menimpa kita. Lalu saat membaca sabda Tuhan berkata, &#8221;Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?&#8221; (Mat 6:25) &#8211; di situ Tuhan berkata kepada kita secara pribadi. Firman Allah adalah teguran, nasihat, dan penghiburan.</li>
<li><strong>Melakukan</strong>, tanpa perbuatan maka sia-sialah Firman yang didengar. Ajaran Kasih oleh Yesus adalah hukum yang paling utama. Namun apa artinya bila saat bersama keluarga sering marah dan mudah tersinggung. Aktif dan tekun berdoa namun tidak memancarkan kasih dalam hidup sehari-hari &#8211; itu adalah sia-sia.</li>
</ul>
<p>Firman Allah sungguh cermin yang mampu membersihkan. Melalui akal budi, mendengarkan dengan hati, dan melakukannya. Setiap hari dapat menjadi momen indah bersamaNya. Lambat laun menjadi pribadi seperti Yesus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/membaca-kitab-suci-adalah-bercermin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peraturan Utama Yesus</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/peraturan-utama-yesus/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/peraturan-utama-yesus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 16:07:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Seluruh kehidupan terorganisir secara rapi melalui peraturan. Namun seluruhnya adalah aturan manusia. Belalah aturan yang paling utama dari Yesus di atas seluruh aturan manusia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anak Anda <strong>lahir </strong>memerlukan akte kelahiran, setelah itu <strong>sekolah </strong>membutuhkan ijasah, bila telah <strong>menikah</strong> harus memiliki akte pernikahan di catatan sipil, dan <strong>matipun </strong>harus pakai akte kematian. Itu semua telah diatur dalam undang-undang ataupun peraturan lainnya. Seluruh hidup Anda harus <strong>mengikuti aturan</strong>.</p>
<p><strong>Gereja Katholik</strong> pun memiliki seperangkat aturan (yang dibuat manusia). Ada buku katekismus, dokumen-dokumen Konsili dan ajaran gereja, lalu ada Kartu Keluarga, dan lain sebagainya. Semuanya <strong>memiliki aturan</strong>.</p>
<p>Saya pernah mendapat cerita dari teman yang aktif di sebuah kelompok kategorial. Kelompok ini luar biasa mapan dan telah berdiri sejak tahun 1921 di negara nun jauh di sana. Menyebar bahkan sampai ke Indonesia. Teman saya kemudian tertarik dan menjadi anggotanya. Semua <strong>memiliki aturan</strong>. Mulai dari cara berdoa, karya apa saja yang wajib dan tidak wajib dilakukan, bagaimana saat melakukan karya tersebut, doa apa saja yang harus didoakan. Saya kagum dengan keteraturan yang disediakan.</p>
<p>Ambilah contoh <a title="Lihat kajian Perda ini dari Komisi Hak Asasi Manusia" href="http://uplink.or.id/v2/downloads/Kajian-Perda-Tibum-komnasham.pdf" target="_blank">Peraturan Daerah DKI no.8 tahun 2007</a> &#8211; bahwa Anda <strong>tidak boleh</strong> lagi memberi sedekah kepada orang miskin. Saya menilai ini suatu keputusan yang baik di sisi ketertiban umum. Bahkan bila melanggar Anda dapat dihukum. Sebuah aturan lagi yang menentukan bagaimana Anda menolong orang. Pendapat teman-teman pada umumnya juga sangat logis, &#8220;Kalau Anda memberi sedekah pada orang miskin di lampu merah &#8211; itu namanya Anda membudayakan kemalasan mereka&#8221;. Berlawanan dengan Luk 6:9, saat Yesus menyembuhkan orang pada hari yang dilarang (Sabat). Sedemikian hebat aturan (manusia).</p>
<p>Ekstrimnya adalah karya kasih harus ada dalam koridor peraturan kelompok. Bukankah <strong>aturan dari Bapa</strong> hanya ada dua (Mat 22:37). Dan bukankah berbuat kasih hanya membutuhkan <strong>hati yang tulus</strong> tanpa kepura-puraan (Rom 12:9).</p>
<p>Teman-teman, lihat dan dengarkanlah suara hati Anda. Mana yang lebih penting, Hukum Kasih atau aturan manusia. <strong>Belalah Tuhan </strong>dengan menjalankan Hukum Kasih di atas hukum manusia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/peraturan-utama-yesus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdoa Itu Dimana Saja</title>
		<link>http://blog.sutanto.or.id/renungan/berdoa-itu-dimana-saja/</link>
		<comments>http://blog.sutanto.or.id/renungan/berdoa-itu-dimana-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 08:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cayadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sutanto.or.id/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bekerja pun kita menjalin hubungan dengan Tuhan. Apapun yang kita lakukan asal untuk memuliakan Tuhan adalah bentuk berdoa, menjalin relasi dengan Sang Maha Kuasa]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya melihat orang mendekatkan diri kepada <strong>Tuhan </strong>itu dimana saja. Pengalaman yang saya peroleh setelah sering menggunakan KRL. Ada yang sambil duduk, berdiri atau sambil jongkok di salah satu sudut kereta. Beberapa menggunakan tasbih, membaca ayat Al-Quran atau kitab suci, menggunakan handphone atau PDA, atau hanya sekedar komat-kamit.</p>
<p>Orang-orang ini adalah <em>commuter</em> sejati. Para pengguna angkutan umum kereta api yang setiap hari pasti naik. Kereta kemudian menjadi seperti <strong>rumah </strong>mereka. Tempat duduk atau berdiri menjadi ruang dimana pertemuan dengan Tuhan terjadi. Khusuk dan menenangkan jiwa. Bahkan mungkin menjadi kegiatan untuk mengisi waktu menunggu sampai di tujuan.</p>
<p>Daripada duduk suntuk lebih baik <strong>khusuk</strong>. Demikian pula hidup ini, orang pergi pagi pulang petang &#8211; langsung tidur. Kalau ditanya kapan berdoa mungkin jawabannya adalah, &#8220;Tidak sempat, capek di jalan&#8221;. Jakarta belakangan ini memang luar biasa macetnya.</p>
<p>Lalu apakah hanya sekedar di dalam kendaraan orang bisa berdoa? Bisakah <strong>sambil bekerja</strong> kita menyatukan diri dengan Tuhan. Bukankah berdoa itu <strong>menjalin hubungan</strong> atau bercakap-cakap dengan Sang Maha Kuasa. Kerja itu sendiri memang belum tentu terkait dengan Tuhan. Sebab setiap orang memiliki <strong>tujuan </strong>yang berbeda saat bekerja. Ada yang hanya berpikir tentang untung atau rugi, kerumitan pekerjaan, konsekuensi yang harus ditempuh, dan pikiran lainnya.</p>
<p>Lain hal bagi seorang Pastor, Pendeta atau Ustad mungkin. Pekerjaan mereka memang hanya untuk kepentingan Tuhan. Kita pun dapat bekerja dengan tujuan untuk Tuhan. Ambilah contoh saat seorang petani menanam padi. Mereka menanam padi untuk kemudian menjadi gabah. Gabah ini lalu diolah menjadi beras. Dan pada akhirnya kita makan. Petani itu dapat saja berpikir, &#8220;Pokoknya tanam, panen dan untung&#8221;. Atau mungkin dia berpikir, &#8220;Hasil kerjaku ini untuk menyediakan beras bagi orang-orang yang membutuhkan&#8221;.</p>
<p><strong>Pola pikir</strong> yang kedua memiliki arti lebih. Yaitu memikirkan orang lain. Bukankah itu suatu amanah dari Tuhan? Agar kita satu sama lain saling menolong. Dan bila tujuan kerja kita adalah merupakan <strong>amanah </strong>Tuhan, artinya kita mengikutiNya. Kita menjalin hubungan dengan Tuhan dalam setiap tindakan di tempat kerja. Itulah <strong>berdoa</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sutanto.or.id/renungan/berdoa-itu-dimana-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
